“Banjir besar yang menggulung Sumatera Barat pada akhir 2025 tidak hanya merusak rumah dan merenggut ratusan nyawa. Di antara gelombang lumpur dan puing-puing, ribuan kayu gelondongan yang hanyut ke muaro tiba-tiba menyingkap fakta yang lebih kelam: bencana ini diduga terkait jaringan pembalakan ilegal lintas sektor yang telah lama bekerja di balik hutan Sumbar—bahkan disebut berada di bawah bayang-bayang seorang oknum perwira tinggi.”
Sumatera Barat ,2 Desember 2025 –Banjir dahsyat di Sumatera Barat menghancurkan rumah, merusak infrastruktur, dan merenggut ratusan nyawa. Di saat masyarakat berjuang menyelamatkan diri, ribuan batang kayu gelondongan meluncur bersama arus dan menumpuk di muaro Pantai Padang. Pemandangan itu langsung memicu dugaan kuat bahwa jaringan pembalakan liar selama ini menggerogoti hutan Sumbar secara sistematis.
Sumber lapangan menyebut para pelaku menebang kayu di kawasan hutan Sumbar, mengangkutnya ke titik pengumpulan, lalu mengganti identitasnya dengan dokumen SIPUHH yang mereka palsukan atau mereka pinjam dari daerah lain. Mereka menyalurkan kayu tersebut melalui jalur resmi untuk menyamarkan aktivitas ilegalnya. Para pelaku menjalankan pola ini dengan disiplin tinggi dan koordinasi rapi.
Jaringan itu tidak bergerak sendirian. Para narasumber menyatakan para pelaku mendapat perlindungan dari oknum aparat lintas sektor. Mereka menyebut nama seorang oknum perwira tinggi bintang dua yang diduga mengamankan jalur distribusi kayu dan memengaruhi proses penegakan hukum. Mereka juga menuturkan bagaimana beberapa laporan masyarakat berhenti di meja tertentu dan bagaimana penyelidikan terhenti sebelum aparat lapangan memeriksa lokasi hulu.
Jaringan itu terus menebang hutan, mengalihkan dokumen kayu, dan mengirimkan hasil tebangannya keluar provinsi. Mereka memanfaatkan izin pelepasan kawasan hutan, kekosongan pengawasan, dan lemahnya audit dari otoritas pusat. Para pejabat teknis di daerah tidak mampu menembus tembok perlindungan itu dan tidak bisa bertindak lebih jauh karena ancaman dan tekanan.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menegaskan bahwa pembalakan liar memperparah bencana hidrometeorologi. Ia merinci dampak kerusakan: banjir itu menewaskan 132 orang, membuat 118 warga hilang, menghancurkan lebih dari 33.000 rumah, dan merusak 16.000 hektare lahan pertanian. Banjir itu juga merusak puluhan sekolah, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, jembatan, bendungan, irigasi, dan empat kilometer jalan.
Gelombang kayu gelondongan yang hanyut bersama arus memperlihatkan betapa parahnya kerusakan hutan Sumbar. Kayu-kayu itu menunjukkan bahwa jaringan ilegal melakukan pembalakan dalam skala luas dan menguasai jalur distribusi. Mereka mengabaikan dampak ekologis dan mempertaruhkan keselamatan masyarakat untuk mempertahankan keuntungan.
Tekanan publik kini meningkat. Masyarakat menuntut pemerintah pusat turun tangan dan membongkar jaringan yang selama ini tak tersentuh. Mereka meminta Presiden memerintahkan penyelidikan penuh dan memeriksa dugaan keterlibatan oknum berpengaruh yang para sumber sebut sebagai pelindung operasi. Mereka menegaskan kebutuhan untuk menindak pemodal, operator lapangan, dan para oknum yang mengamankan jalur kayu.
Banjir itu akhirnya mengungkap apa yang selama ini bergerak dalam diam. Gelondongan kayu yang terbawa arus menunjukkan bukti terang bahwa kerusakan Sumbar bukan terjadi begitu saja. Jaringan pembalakan liar menebang hutan, mengalirkan kayu ilegal, dan menempatkan masyarakat di jalur bencana. Semua itu menuntut penyelidikan yang menyentuh seluruh struktur jaringan dan memutus pengaruh siapapun yang berada di belakangnya.














