, Kota Gorontalo– Baru-baru ini, viral di media sosial Facebook (FB) seorang fotografer yang mengutarakan protes terhadap Dharma Wanita Persatuan (DWP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Rabu (13/09/2023). Protes ini berkaitan dengan adanya pemotongan harga jasa foto wisuda. Peristiwa tersebut terekam dalam siaran langsung melalui akun pribadi Herdy.
Sekretaris DWP UNG, Nova Ntobuo, pada Jumat (15/09/2023) dalam klarifikasinya menyanggah adanya pemotongan harga foto yang tersebar di media sosial. Menurutnya, hal tersebut adalah hasil dari kesepakatan dalam kontrak, dan bukanlah pemotongan harga, melainkan sebuah sistem jual beli yang telah disetujui bersama. Bukan hanya itu telah disetujui bersama, dimana DWP UNG membeli cetakan foto dari fotografer, seperti harga pasaran fotografer di luar.
“Pelaksana di lapangan kita juga ya, tidak sama seperti yang digambarkan bahwa hanya mereka yang kerja semua, tapi juga ada pihak dari kami yang bekerja sama-sama, jadi selama kegiatan fotografer ini tugasnya hanya memotret, selebihnya untuk kegiatan di lapangan, tim kita yang bekerja,” ungkapnya.
Nova menjelaskan bahwa protes tersebut semata-mata merupakan ekspresi kekecewaan dari fotografer yang tidak lagi bekerja sama dengan DWP dalam pemotretan wisuda di UNG. Nova juga menyebut bahwa sebelumnya, pihak DWP telah mengakhiri kerjasama dengan sejumlah fotografer karena hasil fotonya dianggap tidak memenuhi standar kualitas yang diharapkan.
Nova juga menjelaskan bahwa saat rapat pembahasan mengenai kerjasama tersebut berlangsung, Herdy, salah satu fotografer yang melakukan protes, datang dengan emosi tinggi dan bahkan melakukan siaran langsung di Facebook. Dalam video tersebut, Herdy menyatakan bahwa DWP telah memotong harga jasa foto sebesar Rp.40.000, dari total jasa sebesar Rp.100.000, sehingga merasa dirugikan.
“Kami melakukan evaluasi, dan hasilnya menunjukkan bahwa Herdy dan beberapa fotografer lainnya telah melanggar aturan selama pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu, kami tidak mengundang mereka lagi untuk periode wisuda saat ini. Setelah rapat selesai, kami mengadakan penandatanganan kontrak, dan saat itu Herdy datang dengan emosi yang tinggi,” jelas Nova.
Sementara itu, Herdy, salah seorang fotografer, mengungkapkan bahwa sebelumnya ia adalah mitra UNG, tetapi tiba-tiba tidak diundang dalam rapat. Rapat tersebut seharusnya membahas masalah harga dan pembagian lokasi.
“Kami dijelaskan bahwa jika tidak diundang, kami tidak bisa bekerja di dalam kampus,” katanya.
Herdy menambahkan bahwa sebelum DWP mengelola, Humas UNG yang mengurus fotografer wisuda. Pada masa itu, siapa pun yang mendaftar untuk memotret wisuda di UNG tetap dilayani.
“Sejak DWP mengelola, aturannya berubah menjadi pembagian hasil seperti yang terjadi sekarang,” tambahnya.














