Dampak Poligami Terhadap Anak: Konflik, Bullying, dan Kehilangan Koneksi Emosional

Editor: Febrianti Husain

DAILYPOST.ID Jakarta– Isu poligami kembali menjadi perbincangan hangat setelah Pemerintah Jakarta memperbolehkan Aparatur Sipil Negara (ASN) berpoligami. Hal ini tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 2 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Izin Perkawinan dan Perceraian.

Meski diperbolehkan oleh agama dan diatur oleh hukum, psikolog keluarga dan parenting, Ratih Ibrahim, M.M, menekankan bahwa poligami dapat memberikan dampak buruk pada psikologis anak, terutama jika tidak dikelola dengan baik.

Menurut Ratih, anak yang tumbuh dalam keluarga dengan praktik poligami rentan mengalami kecemasan dan depresi. Hal ini disebabkan oleh beberapa kondisi seperti:

  1. Merasa ditinggalkan atau diabaikan: Anak mungkin merasa kurang mendapatkan perhatian emosional dari ayah yang memilih memiliki istri lain.
  2. Lingkungan penuh konflik: Ketegangan antara istri pertama dan kedua atau ketidakpastian dalam keluarga dapat menciptakan lingkungan rumah yang tidak stabil, memengaruhi perkembangan mental anak.
  3. Bullying: Anak dapat menjadi korban ejekan atau diskriminasi dari teman sebaya akibat stigma poligami di masyarakat.
Baca Juga:   Kongres XVIII Muslimat NU: Apresiasi Presiden dan Harapan Masa Depan

“Dalam budaya kita, struktur keluarga poligami sering dianggap berbeda dan dapat menjadi sumber tekanan sosial bagi anak,” jelas Ratih dalam wawancaranya dengan Kompas.com pada Selasa (21/01/2025).

Ratih juga menjelaskan bahwa keputusan ayah untuk berpoligami dapat menyebabkan anak merasa tidak diperhatikan. Dalam jangka panjang, ini berisiko membuat anak kehilangan koneksi emosional dengan sang ayah, yang merupakan salah satu fondasi penting dalam pembentukan kepribadian anak.

“Dampak akan lebih signifikan jika orang tua tidak memberikan rasa aman, pemahaman, dan dukungan emosional yang memadai,” tambahnya.

Baca Juga:   570 Ribu Penerima Manfaat, Program MBG Terus Meluas ke Seluruh Indonesia

Ratih Ibrahim mengimbau para orang tua, khususnya ayah yang berencana berpoligami, untuk mempertimbangkan dampaknya pada anak secara mendalam. Memahami kebutuhan psikologis anak serta memberikan dukungan yang memadai menjadi hal yang sangat penting demi menjaga masa depan mereka.

“Orang tua perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum berpoligami. Jangan sampai keputusan tersebut mengorbankan kesejahteraan psikologis anak,” pungkas Ratih.

(d10)

 

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Baca Juga:   Menakar Dampak Kenaikan PPN 12 Persen bagi Konsumen dan Ekonomi
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia