Di Tengah Gemuruh Pasar Malam Bone Bolango, Jualan Nenek Isna Kerap Sepi Pembeli

Dailypost.id
Ibu Isna Pedagang nasi bulu dan sate yang berasal dari Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo. (Foto: Jefri)

DAILYPOST.ID , Bone Bolango- Suasana pasar malam di Lapangan Ippot Tapa, Bone Bolango, seolah menyuguhkan keindahan gemerlap lampu dan riuhnya keramaian. Namun, di antara deru keramaian, terdapat sebuah pemandangan yang tak tertandingi, menyayat hati setiap mata yang melihat. Seorang wanita yang sudah renta, dengan perjuangan yang tak kenal lelah, berusaha menjual nasi bulu dan sate, namun sayangnya sepinya pembeli yang datang.

Berulang kali, para pengunjung melewati tempat jualan nenek itu tanpa sedikitpun berhenti untuk membeli. Nenek itu adalah Isna, sosok luhur yang tak lagi muda namun semangatnya tetap menyala demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Melihatnya berjuang di tengah gemerlap malam, jarak dari kampungnya yang jauh, tak menyurutkan niatnya untuk berjualan di pasar malam.

Baca Juga:   Intervensi Catin Upaya Pemkab Bonebol Turunkan Angka Stunting

Isna berasal dari Kampung Jawa, Kabupaten Gorontalo. Meski perjalanannya jauh, ia tak gentar untuk berjualan. Dari sore hingga malam, usahanya hanya menghasilkan 6 porsi nasi bulu dan sate yang terjual. Namun, walau hasilnya terbatas, hati Isna tetap bersyukur atas apa yang ia capai.

“Dari sore hingga malam ini, nasi bulu dengan sate baru 6 yang terjual, tapi tidak apa-apa, Alhamdulillah saya bersyukur meskipun baru itu yang terjual,” ucapnya dengan lirih, pada Ahad malam (06/08/2023).

Keberanian dan semangatnya tak terbendung oleh usia. Nenek Isna memiliki 3 orang anak, di mana 1 orang sudah menikah dan 2 lainnya belum menikah, semuanya tinggal bersamanya. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka mendorongnya untuk berjualan dengan pindah-pindah dari satu pasar ke pasar lain. Tak jarang, ia datang ke Tapa Bone Bolango bersama pedagang lain, membayar uang mobil sebesar Rp100.000 untuk pulang pergi.

Baca Juga:   Orang Tua Siswa di Bonebol Protes Soal Penamatan Sekolah, Bupati Hamim Pou Beri Respon!

Tak hanya itu, tempat yang ia pakai untuk berjualan ternyata tidak diberikan secara cuma-cuma. Untuk hari-hari biasa, ia sering dimintai bayaran sebesar 10 ribu, sedangkan pada akhir pekan, biayanya meningkat menjadi 30 ribu rupiah.

Kisah menyayat hati Nenek Isna ini menggambarkan betapa tegarnya seorang nenek yang tak kenal lelah berusaha memastikan anak-anaknya memiliki kehidupan yang layak. Dalam kesendirian dan deru malam, semangatnya tetap berkobar seperti cahaya kecil yang berjuang untuk bersinar di tengah gelapnya dunia. Semoga kisah inspiratif ini menggugah hati kita untuk lebih peduli terhadap sesama dan menghargai perjuangan tanpa henti dari para pahlawan tanpa tanda jasa di tengah-tengah kita

(Jefri Potabuga)
Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Baca Juga:   Puji Kepemimpinan Hamim Pou, Rachmat Gobel : Terbukti Membawa Perubahan
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia