GORONTALO – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi Provinsi Gorontalo. Selama pelaksanaan kegiatan berskala nasional tersebut, perhatian publik dari berbagai daerah tertuju ke Gorontalo yang menjadi pusat berkumpulnya petani, nelayan, penyuluh pertanian, pelaku usaha, akademisi, hingga para pemimpin daerah dari seluruh Indonesia.
Sebagai tuan rumah, Provinsi Gorontalo berhasil menunjukkan kemampuannya dalam menyelenggarakan agenda nasional yang melibatkan puluhan ribu peserta. Kehadiran Presiden Republik Indonesia, para menteri, gubernur, bupati, wali kota, serta berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian dan perikanan semakin mempertegas posisi Gorontalo sebagai daerah yang mampu menjadi pusat kegiatan nasional.
Di balik suksesnya penyelenggaraan PENAS XVII, terdapat peran besar Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie. Keduanya aktif mengawal berbagai tahapan persiapan, mulai dari pembangunan dan penataan lokasi kegiatan, koordinasi dengan pemerintah pusat, hingga memastikan kesiapan seluruh sektor pendukung agar kegiatan berjalan lancar.
Sejumlah media nasional dan daerah turut menyoroti keseriusan Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam menyukseskan PENAS XVII. Berbagai pemberitaan mencatat bagaimana Gusnar Ismail secara langsung meninjau kesiapan lokasi kegiatan dan memastikan seluruh fasilitas utama dapat digunakan dengan baik saat pelaksanaan. Sementara itu, Idah Syahidah Rusli Habibie juga aktif memantau kesiapan pelayanan bagi peserta dan tamu daerah, termasuk dukungan terhadap fasilitas media dan promosi daerah.
Keberhasilan penyelenggaraan PENAS XVII bukan hanya tentang suksesnya sebuah acara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan Gorontalo kepada Indonesia. Potensi pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, budaya, hingga keramahan masyarakat Gorontalo mendapat perhatian luas dari para tamu yang datang dari berbagai provinsi.
Momentum ini juga menunjukkan bahwa Gorontalo memiliki kapasitas dan sumber daya yang mampu mendukung pelaksanaan agenda nasional berskala besar. Kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat kepada Gorontalo menjadi bukti bahwa daerah ini semakin diperhitungkan dalam berbagai program pembangunan nasional.
Tentu masih banyak pekerjaan pembangunan yang harus terus dilanjutkan. Namun, keberhasilan penyelenggaraan PENAS XVII layak menjadi salah satu catatan positif bagi kepemimpinan Gusnar Ismail dan Idah Syahidah Rusli Habibie. Melalui momentum ini, Gorontalo berhasil tampil di panggung nasional dan menunjukkan wajah daerah yang siap, ramah, serta memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
PENAS XVII pada akhirnya bukan sekadar ajang pertemuan petani dan nelayan Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung yang memperlihatkan kemajuan dan potensi Gorontalo kepada seluruh negeri. Dalam momentum tersebut, kepemimpinan Gusnar Ismail dan Idah Syahidah Rusli Habibie berhasil membawa nama Gorontalo semakin dikenal dan mendapat perhatian positif di tingkat nasional.















