, MEDAN – Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 menampilkan karya anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) yang memukau pengunjung.
Bukan rasa iba yang ditampilkan, melainkan rasa kagum. Salah satu daya tariknya adalah songket khas Batu Bara tenunan siswa tuna rungu SLB Negeri Batu Bara.
Empat siswa terlibat menenun. Songket selembar dijual Rp550 ribu, sedangkan untuk bahan pakaian Rp450 ribu. Selama PRSU sudah 4 lembar terjual.
“Yang mahal bukan kainnya, tetapi kesabaran dan ketelatenannya,” kata Edy Junianto, mewakili Kabid SLB Dinas Pendidikan Sumut.
Selain tenun, ada keranjang daur ulang kertas Rp50 ribu, tandok Rp10 ribu, dan keset Rp17 ribu. Siswa tuna rungu seperti Farel dan Putri juga memamerkan hasil jahitan.
Siswa tuna grahita membuat keset, sementara siswa tuna daksa mengembangkan keterampilan sesuai potensi. Sebagian bahkan aktif di pembinaan NPC.
Kepala SLB Negeri Batu Bara, Siti Maryam, mengatakan sekolahnya memiliki sekitar 200 siswa dengan berbagai kebutuhan khusus. Tahun ajaran 2026 ada 32 siswa baru.
“SLB bukan hanya tempat belajar, tapi ruang tumbuh yang aman bagi setiap anak,” ujarnya.
Di bawah kendali Kadisdik Sumut Alexander Sinulingga, Hall Disdik menjadi panggung yang menunjukkan kreativitas tidak memilih siapa yang boleh berkarya.(JB).















