Jakarta – Perayaan Iduladha 1446 Hijriah menjadi momentum reflektif bagi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk menanamkan nilai pengabdian yang lebih mendalam dalam pelayanan publik. Bukan sekadar ritual tahunan, penyembelihan hewan kurban di lingkungan kementerian ini mengisyaratkan perubahan cara pandang dalam menjalankan fungsi birokrasi: dari sekadar kewajiban administratif menuju bentuk pelayanan yang ikhlas dan humanis.
Dalam kegiatan penyerahan hewan kurban yang dilaksanakan pada Minggu (8/6/2025), Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Ossy Dermawan, mengajak seluruh pegawai untuk memaknai kurban sebagai bentuk kesiapan melepas ego sektoral dan kepentingan pribadi demi kemaslahatan masyarakat luas.
“Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tapi menyembelih sifat mementingkan diri sendiri. Di birokrasi, ini berarti keberanian untuk mendahulukan kepentingan rakyat di atas segalanya,” tegas Ossy.
Tahun ini, Kementerian ATR/BPN berhasil menghimpun 80 ekor sapi dan 19 kambing dari para pegawai serta mitra kerja. Sebanyak 47 ekor sapi dan 17 kambing disembelih di RPH, sementara sisanya disalurkan ke masjid, pondok pesantren, hingga lembaga sosial. Total lebih dari 2.300 penerima manfaat tercatat mendapatkan daging kurban.
Namun lebih dari angka, semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang diusung melalui tema “Tingkatkan Kepedulian, Berbagi Bersama Qurban ATR/BPN” menjadi jembatan antara birokrat dan masyarakat. Kegiatan ini turut mengukuhkan paradigma baru bahwa nilai-nilai spiritual seperti keikhlasan, pengorbanan, dan pelayanan bukanlah hal asing dalam ruang kerja birokrasi.
Dalam konteks reformasi birokrasi, kegiatan kurban ini membuka ruang baru untuk menghadirkan wajah birokrasi yang lebih compassionate dan responsif. Dengan menjadikan momen keagamaan sebagai medium pembentukan karakter, ATR/BPN secara perlahan menggeser budaya kerja ke arah yang lebih inklusif dan berorientasi pada nilai.
Direktur Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang, Prasetyo Wiranto, yang juga Ketua Pelaksana Kurban, menegaskan bahwa partisipasi aktif pegawai dalam berkurban merupakan cermin keterlibatan emosional yang kuat terhadap misi kementerian.
“Kurban ini adalah bagian dari pendidikan batin. Pegawai tidak sekadar bekerja berdasarkan target, tapi membawa semangat pengabdian,” ungkap Prasetyo.
Wamen Ossy menutup sambutannya dengan mengutip hadis Nabi Muhammad SAW mengenai keutamaan kurban, sembari menekankan bahwa pengabdian dalam sektor agraria dan tata ruang bukan hanya persoalan legal-formal, tapi juga spiritual.
Melalui momentum Iduladha ini, ATR/BPN menunjukkan bahwa transformasi birokrasi tidak melulu soal digitalisasi dan efisiensi, melainkan juga tentang nilai dan nurani. Kurban pun menjadi refleksi konkret bahwa tugas negara dapat dilandasi oleh semangat keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama.














