, MEDAN – Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) telah bertahan setengah abad sebagai pesta rakyat. Namun di usia emas ke-50, PRSU tak lagi sekadar ruang hiburan dan bazar.
Ada gagasan besar: mengubah PRSU menjadi mesin penggerak budaya, perdagangan, investasi, dan ekonomi kreatif Sumut.
Gubernur Sumut Bobby Nasution meletakkan arah kebijakan dengan mendorong PRSU masuk kalender event nasional. Bagi sebagian orang ini target administratif. Padahal ini pengakuan bahwa Sumut punya agenda layak dipromosikan ke Indonesia bahkan dunia.
Di lapangan, Direktur Utama PT PPSU Ferry Indra menerjemahkan visi itu. PRSU ke-50 menghadirkan 33 paviliun kabupaten/kota dan 1 paviliun negara sahabat. Sekitar 75% konten diisi putra-putri Sumut sebagai etalase UMKM, seni, dan ekonomi kreatif lokal.
Dukungan juga datang dari Komisi VII DPR RI agar PRSU masuk kalender nasional. Itu sinyal transformasi mulai dipandang punya prospek.
Namun tantangan belum selesai. Harga tiket, pelayanan, kenyamanan, dan parkir harus ikut berubah. Trade fair bertaraf nasional diukur dari tata kelola, bukan hanya keramaian.
Tugas Ferry kini membangun fondasi 5-10 tahun ke depan. Jika konsisten, usia emas ke-50 bukan puncak, melainkan titik awal wajah baru Sumut di panggung nasional. (JB).















