Jakarta– Liburan sering kali jadi momen paling dinanti banyak orang. Setelah berhari-hari bersenang-senang, menjelajah tempat baru, atau sekadar bersantai tanpa alarm pagi, kembali ke rutinitas terasa menyiksa?
Kalau kamu merasa lesu, malas, bahkan sedih berlebihan usai liburan, itu bukan sekadar “malas kerja” biasa. Bisa jadi kamu sedang mengalami post-vacation blues kondisi psikologis yang sering diremehkan tapi nyata terjadi.
Apa Itu Post-Vacation Blues?
Post-vacation blues, atau dikenal juga sebagai post-holiday depression, adalah kondisi ketika seseorang merasa kehilangan semangat, sedih, hingga frustrasi setelah masa liburan berakhir. Tak peduli seberapa singkat atau panjang liburannya efeknya bisa terasa dalam, terutama jika liburan tersebut memberi kesan yang berarti.
Menurut Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi, psikolog klinis dewasa dari Jaga Batin Bandung, kunci dari munculnya perasaan ini bukan pada lamanya liburan, tapi makna emosional yang tertinggal.
“Kondisi ini bisa muncul dari liburan apa pun yang menciptakan memori kuat,” jelas Adelia, Jumat (4/4/2025).
Mengapa Post-Vacation Blues Bisa Terjadi?
Liburan menciptakan ruang bebas dari stres, rutinitas, dan tekanan hidup. Sebaliknya, rutinitas harian rapat pagi, tugas menumpuk, macet di jalan—jadi pemicu stres yang konstan. Ketika otak harus beralih dari mode santai ke mode sibuk, tubuh bisa ‘kaget’ dan memunculkan respons emosional negatif.
Tak hanya liburan ke luar kota, bahkan momen seperti menonton konser favorit atau reuni dengan teman lama bisa memicu kondisi ini. Semakin tinggi tekanan hidup sebelum dan sesudah liburan, semakin besar pula risiko terkena post-vacation blues.
Gejala Post-Vacation Blues
Beberapa tanda umum yang patut diwaspadai antara lain:
- Merasa murung dan kehilangan motivasi
- Sulit fokus dan kembali ke ritme kerja
- Mudah marah atau merasa tertekan
- Mengalami gangguan tidur
- Ingin terus kembali ke momen liburan
Cara Cerdas Mencegah dan Mengatasi Post-Vacation Blues
Kabar baiknya, kondisi ini bisa dicegah dan diatasi. Berikut tips jitu dari para psikolog:
✅ 1. Hindari Kembali Tepat di Hari Kerja Jangan langsung terjun ke rutinitas. Sisakan waktu 1–2 hari di rumah sebelum kembali kerja, agar tubuh dan pikiran bisa menyesuaikan diri.
✅ 2. Nikmati Momen Nostalgia Lihat kembali foto-foto liburan, tulis pengalamanmu di jurnal, atau berbagi cerita dengan teman. Alih-alih membuat sedih, cara ini justru membantu otak menyimpan memori indah secara sehat.
✅ 3. Mulai dengan Aktivitas Ringan Di hari pertama kerja, jangan langsung menggarap tugas berat. Mulailah dari hal-hal kecil agar otak dan tubuh kembali membangun ritme kerja secara perlahan.
✅ 4. Rancang Rutinitas yang Menyenangkan Tambahkan elemen kecil yang menyenangkan dalam rutinitas mendengarkan musik, menyeduh kopi favorit, atau berjalan kaki di pagi hari. Ini membantu otak merasa lebih nyaman dengan transisi dari liburan ke rutinitas.
Liburan Boleh Selesai, Tapi Energi Positifnya Bisa Bertahan Lama
Mengalami post-vacation blues bukan tanda kamu “lemah mental”. Justru, ini sinyal alami bahwa kamu butuh ruang untuk beradaptasi. Alih-alih menyangkal, lebih baik menerima dan mengelola perasaan tersebut secara sadar.
Ingat, liburan adalah bentuk rehat, bukan pelarian. Pulang ke rutinitas bukan berarti kehilangan kebahagiaan, tapi kesempatan untuk membawa energi baru dari cerita-cerita indah yang kamu bawa pulang dari perjalanan.
(d10)















