,Trenggalek – Ratusan pelajar SMP dan SMA di Bumi Minak Sopal Trenggalek, sangat antusias menyaksikan pameran keris dan Tosan Aji yang digelar di Gedung Bawarasa Trenggalek.
Kegiatan pameran tersebut dalam rangka peringatan HUT ke-78 RI dan Hari Jadi ke-829 Trenggalek yang digelar selama tiga hari mulai, Senin hingga Rabu (21-23/8/2023).
Sekda Trenggalek, Edy Soepriyanto saat membuka pameran, pada Senin (21/8) menitipkan, gelaran ini bisa rutin diselenggarakan . Alasanya, karena kegiatan seperti ini sebagai salah satu bentuk upaya melestarikan warisan budaya leluhur.
Memang senjata yang digunakan saat ini sudah berubah, tapi kita harus mengakui keris atau tosan aji dan sejenisnya salah satu senjata asli Indonesia.
“Terimakasih kepada panitia yang memiliki semangat yang luar biasa, sehingga bisa mewujudkan kegiatan ini. Sempat hampir tidak jadi, namun karena semangat teman-teman kegiatan ini bisa terealisasi,” ungkap Edy Soepriyanto, di lokasi pameran.
Sebelumnya, para pelajar sempat mendapatkan penjelasan terkait edukasi masalah perkerisan. Selanjutnya siswa diajak berkeliling melihat keris dari berbagai jenis yang dipajang di stan pameran.
Keris-keris yang dipamerkan ditata pada kotak kaca. Berbagai jenis keris dipajang seperti keris Dapur Jalak Ngore dari Sultan Agung, keris Kebo Lajer dari Majapahit, keris Pulanggeni dari Mataram, keris Tilam dari Mataram, keris keris Janggung Majapahit, keris Sempono dari Segaluh.
Kemudian keris Pandowo Cinarito dari Pengging, keris Brojol dari Mataram, keris Jalak Sangu Tumpeng dari Tuban, keris Sengkelat dari Majapahit dan keris Tilam Upih dari Madura.
Panitia Pameran, Muhammad Taslim menyebutkan, keris sebagai warisan dunia telah diakui oleh Unesco, salah satu badan PBB pada 25 November 2005 di Paris. “Keris Indonesia adalah karya agung budaya lisan dan benda warisan kemanusiaan,” jelasnya
Diungkapkan M Taslim, keris merupakan senjata tikam tradisional dari nusantara dengan bentuk unik dan khas. “Keris juga penuh filosofi dan makna, dan diyakini sebagai benda seni dan spiritual yang memiliki kekuatan,” ungkapnya.
Budaya keris pada zaman dahulu merupakan budaya yang turun temurun dan dipakai dihampir seluruh sendi kehidupan. Mulai dari fungsi fisik, simbolik, spiritual dan ekonomi.
“Keris sebagai senjata pusaka piandel (andalan), identitas diri, pangkat jabatan, wakil pemilik pusaka dan lambang,” ucap Imam Mubarok.
Muhammad Taslim mengharapkan, dengan adanya edukasi keris kepada para pelajar setidaknya membuat anak-anak mampu memahami budaya tentang keris. (Sar)














