Saatnya Anak Muda Bangun Ekonomi Kreatif Lewat Young Creative Entrepreneur Program

Dailypost.id
Saatnya Anak Muda Bangun Ekonomi Kreatif Lewat Young Creative Entrepreneur Program
Foto: Pexels.com

Suara.com – Ekonomi kreatif kian santer didengungkan, meski ini sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sebuah industri. Ekonomi kreatif mencakup kegiatan ekonomi berbasis pengetahuan yang menjadi dasar industri kreatif, yang meliputi periklanan, arsitektur, seni dan kerajinan, desain, fashion, film, video, fotografi, musik, seni pertunjukan, penerbitan, penelitian dan pengembangan, perangkat lunak, permainan komputer, penerbitan elektronik, dan TV/radio.

Ekonomi kreatif sebenarnya tidak berbeda dengan proses produksi lainnya, kecuali bahwa input utamanya berasal dari bentuk kekayaan intelektual atau produk yang dapat dilindungi oleh hak cipta. Orang-orang membuat konsep dan menyusun karya, kemudian memproduksi atau menerbitkannya, dan mereka dibayar untuk itu.

Misalnya, melihat siaran online atau membeli berita dari laman berita dotcom, berlangganan layanan streaming hiburan atau pergi ke bioskop, membeli makanan, pakaian atau furnitur secara online, membaca buku atau mendengarkan musik streaming dalam perjalanan ke kantor.

Baca Juga:   GenBI Komisariat UG Divisi Pendidikan Menggelar Kajian "Teknik Persidangan"

Melihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggarap data ekonomi kreatif dan pariwisata sejak awal 2019, tercatat kontribusi subsektor ekonomi kreatif pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp 1.211 triliun. Tetapi, ini didominasi oleh usaha kuliner, fashion, dan kriya. Jumlahnya mencapai sekitar 8,2 juta usaha kreatif.

Kepala BPS, Suhariyanto, menyebut bahwa PDB sebaiknya memang ditumbuhkan oleh ekonomi kreatif dan pariwisata. Karena kedua industri itu bukan berasal dari sumber daya alam, tapi inovasi yang tidak akan habis.

”Saat ini pertumbuhannya yang besar ada pada fashion, kriya, dan kuliner. Tetapi ada subsektor yang share-nya ke PDB kecil, tetapi pertumbuhannya besar dan banyak diminati milenial seperti game, dan seni pertunjukan, termasuk musik, film, video dan fotografi,” kata Suhariyanto.

Baca Juga:   Lagi, Bupati Saipul Mbuinga Resmikan RTP2S di Kecamatan Dengilo
Fritz B.Tobing, Founder & CEO Fantastis Anak Bangsa (FAB) dalam Ideatalks 2021. (Tangkap Layar) suara.com

Kita bisa bandingkan dengan kondisi di Amerika Serikat, di mana nilai produksi ekonomi kreatif pada sisi seni pertunjukan dan budaya online-offline pada tahun 2019 mencapai US$ 919,7 miliar, atau sebesar 4,3% dari PDB negara itu. Di negeri paman Sam itu, seni pertunjukan berkontribusi lebih besar dibandingkan industri konstruksi, transportasi dan pergudangan, perjalanan dan pariwisata, pertambangan, utilitas, dan pertanian.

Melihat perbedaan data Amerika Serikat dan Indonesia ini, FAB berkomitmen untuk berperan aktif dalam memajukan industri kreatif dengan menciptakan sebuah ekosistem bisnis industri kreatif di Indonesia, melalui platform bisnis kreatif.

Baca Juga:   9 Desa di Gorontalo Utara Dapat Bantuan BTS Indosat dari Kemenkominfo

Baca Selengkapnya: Saatnya Anak Muda Bangun Ekonomi Kreatif Lewat Young Creative Entrepreneur Program

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia