, MEDAN – Memasuki hari ke – 20 Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50, komunikasi publik memasuki fase paling strategis. Di titik inilah peran Farah dari PT Royalindo Expoduta sebagai humas PRSU diuji.
Farah berada di persimpangan tiga kepentingan. Ia harus menyampaikan dinamika penyelenggaraan kepada publik, berkoordinasi dengan PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU) sebagai penyelenggara, sekaligus mengawal visi Gubernur Bobby Nasution.
Bobby sejak awal mencanangkan PRSU ke-50 sebagai fondasi transformasi menuju trade fair modern. PRSU diharapkan jadi etalase perdagangan, investasi, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif bertaraf nasional.
Selama 20 hari, berbagai isu muncul. Mulai harga tiket, jam operasional, parkir, hingga konsep baru tanpa APBD. Di era digital, setiap isu cepat membentuk opini publik.
“Komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi. Tapi menjelaskan secara utuh, konsisten, dan berbasis fakta,” demikian yang terus dilakukan tim humas.
Memasuki 10 hari terakhir, tantangannya berubah. Publik tidak lagi menunggu penjelasan konsep, tapi menunggu hasil.
Berapa jumlah pengunjung? Seberapa besar transaksi ekonomi? Bagaimana dampak ke UMKM? Apakah paviliun daerah benar jadi etalase promosi?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jadi tolok ukur. Narasi besar PRSU kini harus dibuktikan dengan data dan capaian.
“Komunikasi publik hanya akan kuat jika ditopang penyelenggaraan yang baik. Sinergi PPSU, EO, dan semua pihak jadi kunci,” ujar Farah.
Jika fondasi itu terbangun sampai penutupan, PRSU ke-50 tidak hanya jadi pesta emas. Ia akan jadi awal perubahan wajah Sumut menuju panggung perdagangan dan investasi yang lebih modern.(JB).















