Dailypost Gorontalo — Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Gorontalo melalui Balai Perlindungan Tanaman (Balintan) mengambil langkah masif untuk menekan ketergantungan petani pada pestisida kimia.
Guna mendorong sistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan, Balintan saat ini tengah memproduksi massal Agen Pengendali Hayati (APH) jenis bakteri Paenibacillus polymyxa sebanyak 1.000 liter.
Proses perbanyakan agen hayati ini dipusatkan di Instalasi Pengamatan dan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (IP3OPT) Limboto. Langkah strategis tersebut menjadi bagian penting dari implementasi sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang berbasis ramah lingkungan di tingkat lapangan.
Sebagai informasi, Paenibacillus polymyxa adalah bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman (rizosfer). Bakteri ini terbukti sangat efektif menekan perkembangan mikroorganisme patogen, salah satunya adalah penyebab penyakit hawar daun bakteri (HDB) yang kerap menyerang tanaman padi sawah dan memicu gagal panen.
Kepala Balintan DKPTPH Provinsi Gorontalo, Abd Wahid Lahay, menegaskan bahwa ketersediaan APH yang melimpah di lapangan akan menjadi solusi konkret bagi petani agar tidak lagi bergantung pada bahan kimia berbahaya.
“Perbanyakan Paenibacillus polymyxa ini adalah upaya nyata kami meningkatkan ketersediaan agen pengendali hayati siap pakai. Kita ingin mengubah pola pikir pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) agar tidak langsung bertumpu pada bahan kimia, melainkan mengoptimalkan potensi mikroorganisme lokal yang menguntungkan,” ujar Abd Wahid Lahay.
Meski demikian, Abd Wahid menambahkan, efektivitas penggunaan APH ini sangat bergantung pada kecakapan para petani dan penyuluh dalam mendeteksi ancaman di sawah. Oleh karena itu, ia meminta sinergi di lapangan diperkuat melalui pengamatan rutin.
“Kami mengajak petani dan penyuluh untuk mengenali OPT sejak dini. Jangan menunggu serangan meluas. Di sini, penyuluh memiliki peran krusial mendampingi petani agar penerapan PHT di lapangan benar-benar presisi, sesuai dengan kondisi riil di lahan,” jelasnya.
Melalui target produksi 1.000 liter Paenibacillus polymyxa ini, Balintan Gorontalo optimistis mampu mengedukasi sekaligus memfasilitasi petani untuk beralih ke metode budidaya yang lebih aman. Sinergi yang kuat antara petani, penyuluh, dan petugas perlindungan tanaman diharapkan dapat mewujudkan ketahanan pangan Gorontalo yang tidak hanya produktif, tetapi juga sehat dan lestari.














