370 Anak Palestina Dipenjara Israel, Dunia Muslim Tak Boleh Diam

Dailypost.id
Oleh: Windi Nur
(Aktivis Muslimah)

Sekitar 370 anak Palestina dilaporkan masih ditahan di penjara-penjara Israel hingga awal Agustus 2026. Mayoritas mereka ditahan di Penjara Megiddo dan Ofer. Data tersebut berasal dari laporan Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy yang diterbitkan pada 27 Agustus 2026. Lembaga tersebut menyebut sekitar 370 anak Palestina berada di antara lebih dari 9.400 tahanan dan narapidana Palestina yang ditahan Israel.

Dalam enam bulan pertama 2026 saja, pasukan Israel dilaporkan telah menahan 276 anak Palestina.
Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat anak-anak yang seharusnya berada di rumah, belajar, bermain, dan tumbuh bersama keluarganya. Laporan tersebut menyebut penahanan anak Palestina bukan lagi sekadar kasus terpisah, melainkan telah menjadi pola berulang dalam kampanye penangkapan di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Laporan itu juga menyoroti penggunaan penahanan administratif yang memungkinkan seseorang ditahan tanpa dakwaan atau persidangan untuk periode tertentu yang dapat diperpanjang.

Laporan Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy menyebut penahanan anak telah menjadi bagian berulang dari kampanye penangkapan Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina pada 2022 menyatakan bahwa lebih dari 50.000 anak Palestina telah ditangkap sejak 1967. Pada saat itu, sekitar 160 anak masih berada di penjara Israel. Angka 50.000 tersebut perlu dipahami sebagai akumulasi penangkapan selama puluhan tahun, bukan jumlah anak yang ditahan secara bersamaan.

Dunia Membisu

Berbagai serangan, pengusiran, dan perampasan tanah dilakukan Zion*s dengan ritme teror yang konsisten. Gaza sudah mereka kuasai, kini Tepi Barat menjadi target berikutnya. Genosida tidak selalu diikuti ledakan besar, melainkan dengan peluru yang menembus tubuh generasi, penjara yang merenggut masa remaja, dan penghapusan eksistensi Palestina serta perjuangannya melawan penjajahan.
Dunia membisu ketika AS, Zion*s, dan pendukungnya mengutak-atik Gaza dengan proyek “New Gaza” mereka. Di tengah seruan perdamaian dan gencatan senjata, Zion*s memborbardir Gaza tanpa ampun. Narasi perdamaian dan gencatan senjata tidak lagi mempan dalam melawan keangkuhan AS dan kebiadaban Zion*s.
Ironi, para penguasa negeri-negeri muslim memilih diam. Mereka tidak berani bersuara lantang, apalagi bertindak tegas. Meski memiliki kekuasaan, otoritas, dan sumber daya yang besar, mereka lebih memilih menutup mata terhadap penderitaan saudara seakidahnya di Palestina, seakan-akan tragedi itu bukan bagian dari tubuh umat Islam. Padahal, di hadapan mereka, anak-anak Palestina dibantai, darah kaum muslim ditumpahkan, dan kehormatan umat diinjak-injak oleh kafir penjajah.

Nurani mati rasa, sedangkan ukhuah dan ikatan akidah Islam kalah demi melindungi kepentingan mereka. Kebisuan ini adalah pengkhianatan terhadap muslim Palestina. Diam berarti membiarkan darah anak-anak terus mengalir tanpa perlawanan. Bisu berarti membiarkan kezaliman dan kejahatan Zion*s tetap berlangsung.
Rasulullah ﷺ mengingatkan perihal mengutamakan ikatan akidah Islam di atas ikatan semu nasionalisme,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ
“Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR Bukhari).

Tidakkah penguasa-penguasa muslim bergetar jika di akhirat kelak, muslim Palestina menuntut balik atas diamnya mereka terhadap penyiksaan dan pembunuhan saudara seimannya yang berlangsung di depan mata mereka? Tidakkah merasa takut akan hisab Allah kelak di hari akhir karena bergemingnya mereka dari mengirim pasukan militer untuk membantu saudaranya sendiri?
Keharaman Membunuh Anak-anak
Islam tidak pernah memberi ruang bagi pembiaran kejahatan terhadap anak-anak. Dalam Islam, nyawa manusia, termasuk anak-anak sangat berharga dan wajib dilindungi (hifz an-nafs). Islam secara tegas melarang pembunuhan anak, baik sebelum maupun setelah lahir tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Bahkan dalam situasi perang sekalipun, Rasulullah ﷺ melarang kepada pasukan muslim untuk tidak membunuh wanita, orang tua, dan anak-anak. Hal ini menunjukkan betapa tingginya perlindungan Islam terhadap jiwa anak-anak.

Dari Aisyah ra., Nabi ﷺ pernah bersabda, “Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal ini; muhshan yang berzina maka ia dirajam, seorang laki-laki membunuh seorang muslim dengan sengaja, dan seorang laki-laki yang keluar dari Islam (murtad), maka ia diperangi Allah dan Rasul-Nya.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Ini adalah nas bagi pengharaman pembunuhan, “Tidak halal darah seorang muslim”, “Tidak halal membunuh seorang muslim”. Oleh karena itu, pembunuhan tanpa alasan yang hak adalah haram. Keharamannya merupakan perkara yang telah ma‘lûmun min ad-dîni bi adl dlarûrah (sesuatu yang sudah diketahui secara pasti dalam agama karena sifatnya sangat mendasar dan darurat). (Abdurrahman al-Maliki, Nizhâm Al-‘Uqûbât, hlm.111).

Agar anak-anak muslim Palestina tidak lagi menjadi korban kejahatan genosida, umat harus tetap bersuara dengan lantang. Begitu pula dengan ikatan akidah Islam dan ukhuah tidak boleh hanya berhenti pada solidaritas dan bantuan kemanusiaan. Lebih dari itu, ukhuah Islamiah sejatinya menuntut persatuan, dari aspek pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama, yakni perlindungan dan penjagaan umat Islam secara hakiki. Tegaknya Khilafah adalah kebutuhan nyata umat Islam agar memiliki kekuatan politik dan militer melawan penjajahan.
Seruan Jih*d Tidak Boleh Padam
Jih*d dalam Islam bertujuan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam Nizhamul Hukmi Fil Islami (hlm. 379) menjelaskan bahwa Islam menjadikan jih*d sebagai metode operasional (thariqah) untuk mengemban dakwah. Sebab diperanginya orang-orang kafir dan musyrik adalah karena kekafiran mereka. Allah Taala berfirman,
قَٰتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلْحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَٰغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan (tidak) pula kepada hari kemudian, mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk.” (QS At-Taubah [9]: 29).

Jih*d adalah jalan pembebasan Palestina yang hakiki. Seruan jih*d harus terus dikumandangkan dengan lantang oleh jemaah dakwah ideologis. Umat tidak boleh terjebak dalam ilusi diplomasi palsu. Palestina sedang menanti pembebasannya di bawah komando khalifah yang akan memobilisasi tentara untuk melawan Zion*s. Ketika Palestina terbebas dari belenggu penjajahan melalui jih*d dan Khilafah, maka tibalah hari bagi anak-anak muslim Palestina dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan tenang tanpa lagi dihantui bayang-bayang senapan Zion*s.

Kematian anak-anak Palestina adalah noda hitam yang tidak bisa dihapus dengan resolusi, konferensi, diplomasi, apalagi rekonstruksi semu yang ditawarkan Barat. Dunia boleh bungkam, tetapi umat Islam tidak boleh diam. Persatuan, Khilafah, dan jih*d adalah solusi nyata bagi terbebasnya Palestina dari penjajahan.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia