GORONTALO – Upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2025 di halaman Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo, Selasa (20/5/2025), berubah menjadi momen emosional saat Gubernur Gusnar Ismail tiba-tiba terdiam dan menahan isak tangis di tengah pembacaan pidato resmi Menteri Komunikasi dan Digital RI.
Pidato tersebut, yang menyinggung soal kemajuan bangsa tak melulu soal infrastruktur megah, menyentuh sisi terdalam nurani Gusnar. Kalimat yang berbunyi “kemajuan tidak selalu dimulai dari proyek besar, melainkan dari piring yang penuh dari anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa rasa lapar,” membuat suasana menjadi hening, nyaris membeku.
“Kemajuan tidak selalu dimulai dari…” suara Gusnar terputus. Ia menunduk sejenak. Deru napasnya berat. Para hadirin, termasuk Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie dan jajaran OPD, ikut terpaku, menyadari bahwa kalimat itu bukan sekadar retorika – melainkan realita yang sedang diperjuangkan.
Momen ini menjadi simbol bahwa semangat Harkitnas 2025 bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga mengarah pada tanggung jawab masa kini – bagaimana negara hadir di meja makan rakyat, terutama anak-anak yang masih berjuang melawan kemiskinan dan kelaparan.
Dalam pidato tersebut, pemerintah pusat juga menegaskan program prioritas nasional seperti makan bergizi gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga perlindungan sosial berbasis digital sebagai langkah nyata mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tangisan tertahan Gusnar seolah menggambarkan bahwa “kemajuan” bukan soal menara beton atau proyek triliunan rupiah, tetapi juga soal perut yang kenyang, otak yang cerdas, dan tubuh yang sehat. Bahwa anak-anak di pelosok negeri, termasuk di Gorontalo, layak mendapatkan hak yang sama.
“Dengan semangat belajar yang tumbuh karena tubuh mereka cukup gizi…” ujar Gusnar melanjutkan kalimat dengan suara lirih, namun penuh tekad.
Upacara tersebut berlangsung lancar hingga akhir, namun pesan yang tertinggal di benak peserta lebih dalam dari sekadar simbolisme. Ia mengingatkan bahwa kebangkitan sejati dimulai dari empati, dari keberanian pejabat untuk menangis, dan dari niat pemerintah untuk memberi makan bukan hanya harapan, tapi juga kenyataan. (AD/D10)















