Gorontalo– Provinsi Gorontalo mencatat inflasi 0,10 persen secara bulanan (month-to-month) pada Maret 2025. Kelompok pengeluaran terbesar yang berkontribusi terhadap inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,25 persen, dengan komoditas utama penyumbang inflasi adalah tomat, yang berkontribusi sebesar 0,37 persen.
Meskipun terjadi kenaikan harga, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir. Pemerintah Provinsi Gorontalo memastikan bahwa angka inflasi ini masih dalam batas aman dan akan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga kestabilan harga, termasuk operasi pasar menjelang Idul Fitri.
Faktor Pemicu Inflasi di Gorontalo
Menurut Kepala BAPPPEDA Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili, inflasi yang terjadi saat ini bisa dimaklumi karena adanya peningkatan pola konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
“Kita bisa memahami adanya kenaikan harga ini, karena masyarakat membutuhkan lebih banyak bahan pangan untuk persiapan Ramadan dan Lebaran,” ujar Wahyudin usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi secara virtual di Ruang Oval, Gubernuran Gorontalo, Selasa (4/3/2025).
Dari data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, sejak Januari hingga Februari 2025, terjadi kenaikan harga rata-rata 0,1 persen. Beberapa komoditas utama yang mendorong inflasi di Februari adalah beras, cabai rawit, serta berbagai jenis ikan.
Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/yoy) Gorontalo justru mengalami deflasi sebesar -0,29 persen, yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap stabil. Kepala BPS Gorontalo, Mukhamad Mukhanif, menegaskan bahwa deflasi ini bukan karena penurunan daya beli, melainkan karena stok barang tersedia dan harga mengalami penyesuaian dibandingkan tahun sebelumnya.
Gorontalo Urutan Ketiga Inflasi Tertinggi Secara Nasional
Dalam peringkat inflasi nasional, Gorontalo menempati urutan ketiga, setelah Sulawesi Tenggara yang mencatat inflasi 0,36 persen. Selain tomat, beberapa komoditas lain yang berkontribusi terhadap inflasi di Gorontalo antara lain:
- Angkung (0,07 persen)
- Emas perhiasan (0,07 persen)
- Ikan cakalang/ikan sisik (0,04 persen)
- Ikan layang/ikan benggol (0,04 persen)
Secara nasional, bawang putih, minyak goreng, dan gula pasir juga menjadi tiga komoditas yang perlu diwaspadai dalam pengendalian inflasi.
Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga
Untuk menekan kenaikan harga dan menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah Provinsi Gorontalo berencana menggelar operasi pasar murah guna memastikan ketersediaan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, turut hadir Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Sekdaprov Sofian Ibrahim, Kepala BPS Provinsi Gorontalo, serta para pimpinan OPD terkait.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memantau harga kebutuhan pokok dan mengambil langkah proaktif dalam memastikan stabilitas ekonomi di Gorontalo.
(d10)














