Vitamin D Berpotensi Jadi Pengobatan Multiple Sclerosis: Temuan Terbaru dari Peneliti Perancis

DAILYPOST.ID Jakarta– Suplemen vitamin D mungkin menjadi harapan baru bagi penderita multiple sclerosis (MS), penyakit neurodegeneratif yang menyerang sistem saraf pusat. Studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Perancis menemukan bahwa konsumsi vitamin D dosis tinggi secara signifikan dapat mengurangi aktivitas penyakit pada pasien MS.

Penelitian ini dipublikasikan dalam JAMA Network pada 10 Maret 2025 dan menawarkan bukti klinis kuat bahwa vitamin D dapat menjadi alternatif terapi yang efektif, murah, dan memiliki risiko efek samping rendah bagi penderita sindrom terisolasi secara klinis (CIS), tahap awal yang sering berkembang menjadi MS.

Vitamin D dan Perannya dalam Tubuh

Vitamin D dikenal sebagai nutrisi penting yang dapat diperoleh dari paparan sinar matahari, serta beberapa makanan seperti ikan berlemak, telur, dan jamur. Fungsinya meliputi:

Membantu penyerapan kalsium untuk menjaga kesehatan tulang.
Mendukung sistem kekebalan tubuh agar bekerja optimal.
Berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan sel.
Mempengaruhi fungsi neuromuskular yang berhubungan dengan kesehatan saraf dan otot.

Baca Juga:   BRI Lakukan Perombakan Direksi dan Komisaris, Hery Gunardi Ditunjuk sebagai Direktur Utama

Kekurangan vitamin D sebelumnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko MS. Oleh karena itu, para peneliti melakukan uji coba untuk melihat bagaimana suplemen ini dapat memengaruhi perkembangan penyakit.

Hasil Penelitian: Vitamin D Kurangi Aktivitas Penyakit pada MS

Penelitian ini melibatkan 303 peserta yang didiagnosis mengalami CIS. Mereka dibagi menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama menerima suplemen vitamin D dosis tinggi (cholecalciferol) setiap dua minggu sekali.
Kelompok kedua menerima plasebo sebagai kontrol.

Setelah dua tahun, hasil menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi vitamin D mengalami lebih sedikit lesi pada otak dan sumsum tulang belakang dibandingkan dengan kelompok plasebo. Sebanyak 60,3% dari kelompok vitamin D menunjukkan aktivitas penyakit, sementara pada kelompok plasebo angkanya mencapai 74,1%.

Para peneliti juga menemukan bahwa efek positif paling besar terjadi pada pasien yang:

Baca Juga:   Rakor ILASP 2024: Upaya ATR/BPN Wujudkan Tata Ruang yang Lebih Baik

✔ Mengalami defisiensi vitamin D yang parah sebelum penelitian.
✔ Memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal.
✔ Tidak memiliki lesi pada tulang belakang saat uji coba dimulai.

Temuan ini menunjukkan bahwa cholecalciferol dapat menjadi terapi yang menjanjikan untuk memperlambat perkembangan MS, terutama bagi pasien yang memiliki akses terbatas terhadap terapi modifikasi penyakit yang lebih mahal.

Masih Perlu Penelitian Lebih Lanjut

Meskipun hasil ini menjanjikan, masih ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab sebelum vitamin D dapat direkomendasikan sebagai terapi standar untuk MS.

Studi ini terutama mengukur kerusakan saraf melalui MRI, tetapi perbedaan gejala klinis antar kelompok tidak terlalu mencolok.
Tingkat kekambuhan MS antara kelompok vitamin D dan plasebo tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami bagaimana vitamin D mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, mengingat MS sendiri adalah penyakit autoimun yang dipicu oleh respons imun yang tidak normal.

Baca Juga:   MBG, Upaya Pemerintah dalam Menyediakan Makanan Sehat dan Bergizi bagi Anak

Meski demikian, penelitian ini tetap menjadi langkah maju yang penting dalam memahami peran vitamin D sebagai terapi tambahan bagi penderita MS.

(d10)

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia