– Tradisi wisuda siswa TK, SD, SMP, dan SMA telah menjadi perbincangan hangat di media sosial belakangan ini. Sebagian masyarakat mendukung tradisi ini, sementara yang lain memiliki pandangan yang berbeda. Dalam cuitan warganet di media sosial, terdapat pro dan kontra yang mencerminkan keragaman pandangan mengenai masalah ini.
Salah satu warganet menyatakan setuju dengan tradisi wisuda anak sekolah, namun mengakui bahwa banyak yang tidak setuju karena biaya yang harus dikeluarkan dan seharusnya dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Di sisi lain, ada warganet yang memilih untuk berada di tengah-tengah. Dia mengungkapkan pengalamannya saat anaknya mengikuti acara wisuda (perpisahan/pentas seni/akhir sanah) di sekolah dengan sederhana. Hampir semua orang tua murid terlihat menikmati momen tersebut, merasa bahagia dan terharu melihat anak-anak mereka naik panggung. Mereka juga mengapresiasi anak-anak dengan membawa hadiah seperti kado atau buket bunga.
Namun, ada juga warganet lainnya yang berpendapat kontra terhadap tradisi wisuda anak TK hingga SMA. Menurutnya, wisuda seharusnya hanya diperuntukkan untuk jenjang universitas, sementara TK hingga SMA cukup dengan perayaan kelulusan. Dia menyadari bahwa tidak ada pemaksaan, tetapi ada tekanan sosial yang mendorong untuk mengikuti tren selebrasi wisuda. Bagi mereka yang mampu, tidak ada masalah, tetapi bagi yang tidak mampu, menjadi sulit. Warganet tersebut berharap agar pemerintah membuat aturan yang jelas dan terarah sehingga tidak menimbulkan polemik dan pro-kontra di masyarakat.

Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan untuk bertindak dalam mengatasi permasalahan pro dan kontra terkait tradisi wisuda siswa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) telah memberikan tanggapannya terkait polemik ini. Anang Ristanto, Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud Ristek, menjelaskan bahwa wisuda pada setiap jenjang pendidikan merupakan kegiatan opsional. Dia mengimbau agar pihak sekolah berkomunikasi dengan komite sekolah dan persatuan orang tua murid dan guru untuk menentukan pilihan terbaik yang tidak memberatkan orangtua.
Pentingnya adanya komunikasi dan kerjasama antara sekolah, komite sekolah, dan guru menjadi fokus dalam menyelesaikan perdebatan mengenai tradisi wisuda siswa. Dengan adanya peraturan yang jelas dan terarah, diharapkan polemik pro dan kontra dapat diatasi serta masyarakat dapat mencapai kesepakatan yang baik terkait perayaan wisuda siswa di berbagai jenjang pendidikan.
Dan sebagai sebuah negara yang berkomitmen terhadap pendidikan, penting bagi pemerintah untuk memperhatikan aspirasi masyarakat dan memberikan respon yang tepat. Pengambilan kebijakan yang bijaksana dan transparan dapat meminimalkan pro-kontra serta memastikan kepentingan dan kesejahteraan anak-anak sebagai prioritas utama.
















