Jakarta– Nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp15.710 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi ini, mengalami pelemahan sebesar 0,32 persen atau 50,5 poin dari perdagangan sebelumnya.
Mata uang di kawasan Asia juga menyusul merah, dengan Baht Thailand melemah 0,10 persen, peso Filipina 0,50 persen, won Korea Selatan 1,09 persen, dan yuan China 0,03 persen. Dolar Singapura juga tercatat melemah 0,07 persen. Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,03 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,02 persen.
Sementara mata uang utama negara maju juga kompak berada di zona merah, dengan euro Eropa melemah 0,08 persen, poundsterling Inggris 0,16 persen, dan dolar Australia 0,08 persen. Franc Swiss dan dolar Kanada juga mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,09 persen dan 0,07 persen.
Menurut analis pasar Lukman Leong, pelemahan rupiah pada pembukaan perdagangan dipengaruhi oleh data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) Non-Farm Payroll (NFP) yang baru saja dirilis, yang ternyata lebih kuat dari perkiraan.
Leong menjelaskan bahwa meskipun pelemahan rupiah tidak diperkirakan terlalu dalam, investor saat ini sedang menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2023 yang akan dirilis siang ini.
“Namun investor juga mengantisipasi data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang akan dirilis jam 11 siang,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Hari ini, Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp15.650 per dolar AS hingga Rp15.800 per dolar AS.














