, Jakarta- Indonesia terus melangkah maju dalam pengembangan program transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT) ketika usia kemerdekaannya memasuki yang ke-78. Dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), negara ini gencar menjalin kerja sama dengan berbagai negara.
Hingga saat ini, kerja sama LCT telah terjalin dengan beberapa negara, seperti China, Jepang, Malaysia, dan Thailand. Melalui kerja sama ini, pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra dapat bertransaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing secara langsung, tanpa harus melibatkan mata uang utama seperti dolar AS.
Kerja sama LCT akan segera berlaku juga antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel). Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa penandatanganan bank sentral telah terjadi, dan langkah selanjutnya adalah implementasi serta sosialisasi kepada para pelaku usaha.
Hingga Juni 2023, sebanyak 2.014 pengusaha telah memanfaatkan fasilitas LCT, mencakup berbagai skala usaha dari kecil hingga besar. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1.741 pengusaha.
“Kami optimis jumlah ini akan terus bertambah karena sosialisasi makin baik dan intens,” ujar Destry.
Pada semester I-2023, nilai perdagangan LCT mencapai US$ 3,2 miliar. Jumlah ini hampir menyamai realisasi selama setahun penuh pada tahun 2022 yang mencapai US$ 4,1 miliar.
Mayoritas nilai transaksi berasal dari perdagangan antara Indonesia dan Malaysia, yang mencapai US$ 1,2 miliar atau 38%. Diikuti oleh Jepang dengan 23%, Thailand 20%, dan sisanya berasal dari China.
Destry menyatakan, “Biasanya itu 2 tahun kemarin kalau nggak Tiongkok, Jepang. Tapi kali ini yang mendominasi adalah Malaysia. Terakhir justru China karena ekonomi China juga memang sedang mengalami pelemahan.”
Manfaat dari Transaksi Mata Uang Lokal
Implementasi LCT ini telah memberikan sejumlah manfaat yang diungkapkan oleh para pemimpin dari dua bank terkemuka di Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menjelaskan bahwa LCT penting untuk mengelola stabilitas nilai tukar rupiah. Ini juga memberikan dukungan bagi pelaku usaha untuk lebih mudah masuk ke pasar internasional.
“Dengan implementasi LCT, perbankan dapat lebih melihat peluang pasar tidak hanya dalam negeri, tetapi juga di luar negeri dengan negara-negara yang memiliki LCT Arrangement tanpa risiko nilai tukar,” kata Darmawan.
Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja, juga menyoroti manfaat implementasi LCT. Pelaku usaha tidak perlu lagi melakukan konversi mata uang sebelum bertransaksi dengan mitra bisnis di negara tujuan.
Jahja menambahkan, “Dengan model ini kita bisa berikan promosi cashback transaction, kemudian kurs kita berikan spesial. Kita harus salut kepada BI dan rekan-rekan bank sentral di China, Jepang, Malaysia, dan Thailand.”
Harapannya, implementasi LCT dapat terus berkembang, mendorong lebih banyak negara untuk bergabung dan mengadopsi kebijakan serupa. Jahja berharap pelanggan akan semakin memahami efisiensi dan efektivitas dari LCT.















