GORONTALO – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, tiba di Gorontalo, Rabu (11/6/2025), dalam rangka kunjungan kerja penting yang juga sekaligus menjadi momentum kultural. Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Bumi Serambi Madinah, Abdul Mu’ti disambut secara adat melalui prosesi Mopotilolo, tradisi penyambutan tamu negara yang sarat makna filosofis.
Kedatangannya di Bandara Lama Djalaluddin Gorontalo disambut langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo, Sofian Ibrahim, bersama unsur pemerintah daerah dan para tokoh adat.
Prosesi adat dimulai dengan Mopolahu to Utaeya, tanda hormat yang diberikan saat tamu kehormatan turun dari kendaraan. Selanjutnya, di ruang VIP bandara, digelar ritual Mopodungga lo Tilolo dan Mopodongga lo Adati Mopoyilumu, di mana makanan khas disajikan sebagai simbol empat unsur kehidupan: tanah, air, angin, dan api.
“Empat unsur ini bukan sekadar sajian simbolis, tapi lambang penerimaan penuh serta restu bagi tamu negara untuk memasuki wilayah Gorontalo secara adat,” ungkap salah satu pemangku adat Suwawa yang turut hadir dalam prosesi tersebut.
Rangkaian penyambutan diakhiri dengan Modua atau doa bersama, serta Mongabi, yakni pernyataan penutup yang disampaikan dalam bentuk sajak adat Suwawa—sebuah warisan sastra lisan yang masih lestari di masyarakat adat Gorontalo.
Usai prosesi adat, Menteri Abdul Mu’ti dijadwalkan menghadiri Sidang Senat Terbuka dalam rangka Milad ke-17 Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo), sekaligus mewisuda para lulusan program magister, profesi, dan sarjana angkatan ke-21.
Yang tak kalah penting, Abdul Mu’ti juga akan meresmikan pendirian Fakultas Kedokteran UMGo, sebuah lompatan besar bagi pengembangan sumber daya manusia bidang kesehatan di kawasan timur Indonesia.
Kehadiran Menteri Abdul Mu’ti tak hanya menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam pengembangan pendidikan tinggi di daerah, tetapi juga mempertegas pentingnya sinergi antara kebijakan nasional dan kearifan lokal.
“Pendidikan tidak hanya soal kurikulum dan sarana, tetapi juga penghormatan terhadap budaya dan nilai-nilai lokal. Di Gorontalo, itu nyata,” ujar seorang akademisi UMGo yang turut menyambut kedatangan menteri. (Ad/d09)














