Gorontalo – Upaya pencegahan stunting di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, mendapat dukungan nyata dari mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui program PKM-PM (Program Kreativitas Mahasiswa- Skim Pengabdian Masyarakat) Belmawa, tim mahasiswa UNG berkolaborasi dengan kader Posyandu untuk memproduksi cookies fortifikasi berbahan daun kelor dan tulang ikan lele.
Kegiatan ini berlangsung sejak Juli hingga September 2025, dengan tujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam pencegahan stunting serta mendorong perbaikan gizi masyarakat melalui inovasi pangan berbasis bahan lokal.
Produk unggulan dari program ini adalah cookies fortifikasi yang diperkaya dengan tepung daun kelor dan tulang ikan lele. Kedua bahan ini dipilih karena mudah ditemukan di Gorontalo dan kaya nutrisi, mulai dari protein, zat besi, hingga kalsium.

“Cookies ini disukai anak-anak, memiliki rasa yang familiar, namun kandungan gizinya sangat tinggi. Produk ini bisa menjadi makanan tambahan yang efektif untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” jelas dosen pembimbing tim, Apt. Wiwit Zuriati Uno, S.Farm., M.Si.
Program ini digagas oleh mahasiswa Jurusan Farmasi (D3 dan S1) serta Kesehatan Masyarakat UNG, dengan dukungan pendanaan dari Belmawa Kemensiktisaintek. Kader Posyandu Hunggaluwa dilibatkan langsung sebagai ujung tombak pelaksanaan, dengan dukungan penuh dari pemerintah kelurahan serta masyarakat setempat.
Sasaran utama program ini adalah kader Posyandu yang diharapkan mampu memproduksi cookies fortifikasi secara mandiri. Selain itu, produk akan dimanfaatkan dalam program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil di Posyandu.
Kegiatan pelatihan yang dilakukan mendapat sambutan positif dari kader Posyandu maupun masyarakat. Para kader menunjukkan antusiasme tinggi dan termotivasi untuk menjadikan cookies ini sebagai produk rutin Posyandu, bahkan dikembangkan sebagai peluang usaha.
Untuk mendukung keberlanjutan, tim mahasiswa menyerahkan modul pembuatan cookies fortifikasi yang mudah dipahami, mulai dari resep, komposisi bahan, hingga langkah-langkah produksi. Lebih jauh, tim juga mendorong agar pemerintah kelurahan bersama Dinas Kesehatan mengintegrasikan cookies fortifikasi ini sebagai produk resmi Posyandu.
Pemilihan Kelurahan Hunggaluwa sebagai lokasi program bukan tanpa alasan. Daerah ini memiliki angka stunting yang cukup tinggi namun juga didukung kader Posyandu yang aktif, sehingga dianggap potensial untuk pemberdayaan.
Ke depan, model pemberdayaan ini diharapkan dapat diperluas ke wilayah lain di Kabupaten/Kota Gorontalo.
“Kami ingin agar inovasi sederhana berbasis bahan lokal ini bisa menjadi solusi nyata dalam menekan angka stunting, tidak hanya di Hunggaluwa tetapi juga di seluruh Gorontalo,” ujar perwakilan tim mahasiswa. (D09)














