, Gorontalo Utara – Prosesi adat Molo’opu terhadap Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Gorontalo Utara yang baru, AKBP. Andik Gunawan dilaksanakan di rumah dinas Bupati Gorontalo Utara, Selasa (11/04/2023).
Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu dalam sambutannya menyampaikan, 5 prosesi adat yang dijalani oleh Kapolres Andik Gunawan yang diawali dengan penerimaan secara adat adalah sebagai pertanda bahwa Kapolres baru sudah bisa melaksanakan tugas di seluruh wilayah Gorontalo Utara.
“Terhadap Bapak Andik Gunawan bersama isteri, kami menyampaikan tadi ada 5 prosesi yang dijalani, yang pertama penerimaan secara adat sebagai pertanda bahwa bapak sudah bisa melaksanakan tugas di wilayah Gorontalo Utara dan bapak akan diikuti dari segala perintah, tindakan dan perilaku,” ujar bupati.
“Yang kedua, bapak sudah disumpah, di ikrar dengan perjanjian bahwa diberikan kewenangan secara adat, secara terbuka
dalam ekspresi, dalam ungkapan, tanah tanah tuanku, angin angin tuanku, air air tuanku, dan api api tuanku,” lanjut Thariq.
Menurut bupati, tanah adalah sifat netralitas dan produktif, dimana semua hal yang tidak baik dikubur dengan aman di dalam tanah. Dan tanah juga menunjukkan satu sikap netral yang sejuk dan mampu menumbuhkan kehidupan angin.
Angin, kata bupati, adalah kehidupan yang penting bagi manusia dan juga makhluk sekitar. Sementara air, adalah sumber kehidupan. Artinya, menunjukkan bahwa pemimpin atau menjadi Ta’uwa Lo Tula’i Bala, yang artinya pemimpin di bidang pertahanan dan keamanan.
“Jadi menunjukkan sikap, bahwa air adalah lambang kehidupan. Maka seorang pemimpin harus menjadi sumber inspirasi kehidupan, menjadi penghilang dahaga, dan juga penyembuh bagi berbagai penyakit dan masalah,” imbuhnya.
Sementara untuk api, menunjukkan semangat.
Api tidak diletakkan di bagian awal, karena api juga bermakna sifat emosional manusia. Oleh sebab itu, bagi seorang pemimpin api menjadi spirit dan semangat dikala lesu, serta menjadi semangat untuk terus memberikan yang terbaik dalam memberikan pelayanan kepada Negeri.
“Itulah 4 penyerahan kewenangan, tetapi dikunci dengan satu pesan leluhur untuk tidak sewenang-wenang mengikuti hawa nafsu dalam melaksanakan tugas dan wewenang,” ujar bupati.
Prosesi adat ketiga yang disampaikan Bupati Thariq adalah, tentang peringatan-peringatan. Prosesi ini memiliki arti bahwa menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dijalankan.
“Jika kita mampu menjalankan itu, kita akan diagungkan, dihormati dan didoakan. Dan yang keempat, adalah pesan yang berisi tentang perilaku yang alamiah sebagai manusia, selalu meminta bimbingan, masukan dan berkomunikasi,” tandasnya.
“Yang terakhir adalah penutup dimana tuan Qodhi telah menyampaikan pesan-pesan agama yang luhur. Karena sesungguhnya adat kita adat bersendikan syara, Syara bersendikan kitabullah,” Tutup Thariq. (Adv/Daily05)














