,Trenggalek – Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin Menjadi Inspektur Upacara dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kabupaten Trenggalek, Kamis (1/6/2023)
Bupati muda ini mengajak warga masyarakat Kabupaten Trenggalek mengingat bagaimana Pancasila diutarakan oleh Presiden Soekarno dalam sidang Badan Persiapan Kemerdekaan atau (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai.
Masih dalam rangkaian momentum tersebut Bung Karno juga menegaskan bahwa untuk mengambil langkah besar jangan sampai dikalahkan dengan urusan yang remeh temeh.
Bahkan saat Ibnu Al Saud, raja Arab Saudi pertama ketika menyatukan suku-suku dan kemudian memproklamirkan adanya kerajaan Saudi Arabia masyarakatnya mayoritas mempunyai intelektualitas yang rendah
“Disebutkan oleh Bung Karno 80 persen nya adalah suku Baduy yang bahkan tidak tahu bahwa mobil itu perlu bahan bakar,” papar bupati.
Tak berbeda jauh dengan berdirinya negara Soviet yang saat dibentuk terdapat salah satu suku yang 80 persennya tidak bisa baca dan tulis.
“Jadi Bung Karno menjelaskan kalau kita masih mengurusi yang remeh-temeh, sampai di liang kubur maka tidak akan merasakan yang namanya Indonesia merdeka,” lanjutnya.
Bung Karno lalu mengibaratkan kemerdekaan bagai satu jembatan emas yang di ujung jembatan itu dibangun tamansari yaitu Indonesia merdeka.
Menurut Mas Ipin, masyarakat harus bersyukur jembatan tersebut telah diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Untuk itu tugas generasi penerus saat ini adalah membangun tamansari Indonesia merdeka tersebut.
Salah satu implementasinya di Trenggalek adalah Mas Ipin mengajak masyarakat membangun Kabupaten Trenggalek secara gotong- royong dengan tidak memikirkan yang remeh-temeh.
“Membangun tidak harus menunggu sampai ada anggaran dulu. Untuk membantu orang miskin juga apa harus ada anggarannya? Apa tidak cukup sila kemanusiaan yang adil dan beradab itu untuk menyentuh relung hati kita untuk turun bergotong-royong?” tegas pemimpin muda ini.
Sebagai insan Pancasila, menurut Mas Ipin setiap warga negara harus bersyukur karena memiliki founding father yang telah memberikan pondasi yang brilian.
“Kalau beliau sudah memperjuangkan yang namanya political independence, maka saat ini yang harus kita perjuangkan political consinteny, yaitu konsisten terhadap cita-cita Pancasila itu sendiri dan tidak hanya menghafalkan sila Pancasila tapi kemudian mengamalkan sila-sila Pancasila,” tutupnya (Sar)















