Antara Etika dan Otomatisasi: Refleksi Pengenalan Coding dan AI di Sekolah

Dailypost.id
Ilustrasi
Oleh: Muhammad Isa Anshori, S.Pd., M.Pd 
Peneliti di Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi)

Mendampingi Anak Hadapi Revolusi Digital

DAILYPOST.ID – Langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) untuk memperkenalkan coding dan kecerdasan buatan (AI) ke sekolah-sekolah menjadi perbincangan hangat. Sebagian menyambutnya dengan semangat, sebagian lagi penuh was-was. Di satu sisi, ini merupakan jawaban terhadap dunia yang semakin terdigitalisasi. Di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah anak-anak kita sudah siap secara karakter menghadapi gelombang teknologi yang tak terbendung ini?

Tidak dapat dipungkiri, kemampuan literasi teknologi memang sangat dibutuhkan. Dunia kerja dan kehidupan masa depan akan makin erat dengan pemrograman, otomasi, dan kecerdasan buatan. Maka, mengenalkan AI sejak sekolah dinilai sebagai strategi jangka panjang yang menjanjikan. Anak-anak diajak memahami dan menguasai alat masa depan sejak dini.

Namun, tidak sedikit pula yang merasa skeptis. Banyak orang tua dan guru yang mengkhawatirkan kemampuan anak-anak dalam mengontrol penggunaan teknologi secara bijak. Kekhawatiran ini muncul karena kenyataan bahwa teknologi seringkali digunakan tanpa pendampingan nilai yang kuat. Jika tidak hati-hati, anak-anak dapat tergoda memanfaatkan AI sebagai jalan pintas, bukan alat pengembangan diri. Proses belajar pun menjadi instan, tanpa pemahaman mendalam.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat. Mereka terbiasa dengan akses instan dan solusi instan. Maka dari itu, jika tidak dibekali dengan keterampilan berpikir kritis dan kesadaran etis, pengenalan AI bisa menjadi bumerang yang justru menghambat pembentukan karakter.

Baca Juga:   Kota Gorontalo Jadi Target Pengembangan Infrastruktur Digital

AI Cermin Kecerdasan atau Celah Keculasan?

Pernyataan menarik datang dari Mendikdasmen, Abdul Mu’ti dalam sebuah pidato. Ia mengingatkan bahwa AI tidak secara otomatis membuat manusia menjadi lebih cerdas, justru bisa membuat manusia semakin culas. Ini menjadi refleksi penting di tengah arus besar digitalisasi pendidikan.

Fenomena saat ini menunjukkan bahwa banyak siswa lebih memilih menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas secara cepat tanpa berpikir. Mulai dari menjawab soal pilihan ganda, membuat ringkasan, bahkan hingga menyusun karya ilmiah semuanya dilakukan tanpa benar-benar memahami isinya. Proses belajar berubah menjadi aktivitas teknis semata, bukan lagi perjalanan intelektual.

Dalam hal ini, muncul pergeseran dari in-depth thinking (berpikir mendalam) ke superficial thinking (berpikir dangkal). Anak-anak terbiasa menerima jawaban tanpa bertanya, menyerap tanpa mengolah. Mereka kehilangan proses belajar yang membentuk daya juang, nalar kritis, dan integritas.

Namun, teknologi tidak bisa disalahkan. Yang perlu dipertanyakan adalah kesiapan manusia dalam mengelola teknologi itu sendiri. AI hanyalah alat. Ia bisa menjadi jalan menuju pemahaman yang luas, tetapi juga bisa menjadi lorong menuju kemalasan jika disalahgunakan. Di sinilah pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk mengimbangi kemajuan teknologi.

Kolaborasi Pendidikan: Peran Guru dan Orang Tua

Keberhasilan pengenalan AI di sekolah sangat bergantung pada pendampingan yang tepat. Guru dan orang tua memegang peran sentral untuk memastikan bahwa AI tidak menjauhkan anak dari semangat belajar, tetapi justru mendekatkannya.

Baca Juga:   Kadis Dikbud Gorontalo Abdul Waris Buka Bimtek Papan Interaktif Digital, Dorong Digitalisasi Pembelajaran

Guru tidak bisa hanya sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi. Mereka juga harus menjadi penjaga nilai dan penuntun etika. Siswa perlu dibimbing agar tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemikir yang mampu menilai manfaat dan risiko dari teknologi yang mereka gunakan. Guru juga bisa mengembangkan tugas-tugas yang mendorong eksplorasi dan pemecahan masalah nyata, bukan hanya menguji hafalan atau menyalin informasi dari AI.

Orang tua pun tidak bisa lepas tangan. Di rumah, mereka harus membangun ruang diskusi tentang penggunaan teknologi secara sehat. Anak-anak perlu diajak memahami kapan harus mengandalkan AI dan kapan harus menggunakan otak mereka sendiri. Pengawasan, dialog terbuka, dan penanaman nilai akan menjadi kunci agar teknologi tidak mengambil alih tanggung jawab moral.

Kurikulum pendidikan juga harus menyentuh aspek ini. Literasi digital bukan hanya soal teknis menggunakan perangkat, tetapi juga tentang etika, tanggung jawab, dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan informasi. AI harus dikenalkan bukan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai media untuk membentuk akhlak mulia di tengah zaman otomatisasi. Pendidikan digital tanpa fondasi moral hanya akan melahirkan pengguna, bukan pemimpin.

Mewujudkan Generasi Tangguh di Tengah Kemudahan-Kemudahan

Pendidikan di era digital tidak cukup hanya mengajarkan anak menjadi cerdas, tetapi juga harus membekali mereka dengan kekuatan karakter. Teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna jika penggunanya tidak memiliki ketangguhan moral. Dalam konteks ini, AI adalah ujian sekaligus
peluang. Ia menguji sejauh mana karakter dan etika menjadi bagian dari proses belajar.

Baca Juga:   Dishub Provinsi Gorontalo Ubah Cara Kerja: Penertiban AKDP Kini Berbasis Aplikasi

Pengenalan AI di sekolah seharusnya bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi juga harus menjadi bagian dari pendidikan karakter yang menyeluruh. Jika diimplementasikan dengan bijak, program ini akan menjadi jembatan menuju generasi yang kreatif, reflektif, dan tangguh dalam menghadapi
tantangan zaman.

Mari kita tempatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Jangan biarkan anak-anak terjebak dalam kenyamanan teknologi tanpa memahami nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi. Mari bentuk generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga menguasai dirinya generasi yang cakap digital dan kuat secara moral.

Tentang Penulis: 
Muhammad Isa Anshori, S.Pd., M.Pd 
adalah peneliti di Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi). 
Ia aktif menulis isu-isu pendidikan dan sosial di berbagai media nasional. 
Email: [email protected]

 

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia