GORONTALO – Di tengah hiruk-pikuk tantangan ekonomi masyarakat, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memilih langkah berbeda. Ia turun langsung ke lapangan, dari desa ke desa, kecamatan ke kecamatan, membawa bantuan pangan sekaligus menyapa rakyatnya, pada Jumat (20/06/2025). Inisiatif ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, tetapi manifestasi dari kepemimpinan yang merakyat, peka, dan transformatif.
Program Bantuan Langsung Pangan yang digagas Gusnar, berupa distribusi beras, telur, minyak goreng, dan gula pasir, telah menyasar seluruh kabupaten/kota serta desa dan kelurahan di Provinsi Gorontalo. Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan pokok, program ini mencerminkan filosofi kehadiran negara melalui tangan seorang pemimpin yang tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung denyut nadi rakyatnya.
Menurut Dr. Alvian Mato, S.H., S.Pd.I., M.Pd.I., Tim Komunikasi Gubernur Gorontalo, inisiatif Gusnar menunjukkan intuisi dan kepekaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan.
“Ini adalah model kepemimpinan yang responsif terhadap problem dasar rakyat. Bukan sekadar bantuan, tapi simbol kehadiran pemimpin di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Kehadiran langsung Gusnar Ismail dalam proses penyaluran bantuan menciptakan kehangatan emosional antara pemimpin dan rakyat. Banyak warga menyambutnya dengan senyum sumringah, bukan hanya karena menerima bantuan, tetapi karena merasa diperhatikan secara langsung.
Model ini mengingatkan kita pada sosok Khalifah Umar bin Khattab yang turun sendiri memikul gandum demi rakyat yang kelaparan. Seperti halnya pendekatan servant leadership yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf, Gusnar mempraktikkan gaya kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan sebelum perintah.
Program pangan gratis ini memiliki kemiripan filosofi dengan kebijakan nasional Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang merancang program makan bergizi gratis bagi pelajar. Keduanya berakar pada visi besar, membentuk sumber daya manusia unggul melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan pangan.
Sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Haryatmoko (2020), seorang pemimpin etis adalah mereka yang menghadirkan kebijakan berbasis kebutuhan rakyat. Gusnar Ismail membuktikan bahwa visi tersebut bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata di lapangan.
Secara akademis, langkah Gusnar memperkuat implementasi prinsip Good Governance, khususnya dalam aspek responsivitas, transparansi, dan partisipasi publik. Dengan meninggalkan formalitas kekuasaan dan menyambangi langsung rakyatnya, Gusnar menunjukkan bahwa demokrasi bukan hanya soal prosedur, tetapi juga substansi untuk kesejahteraan rakyat.
“Inisiatif dan keteladanan seperti ini tidak perlu dipersoalkan karena alasan teknis administratif yang tidak substansial. Substansinya adalah kebaikan dan kemaslahatan masyarakat Gorontalo,” tegas Dr. Alvian.
(AD/D09)














