Penulis: Sumiati (Aktivis Dakwah)
Opini — Keadaan di Gaza makin mengerikan.Tercatat hingga awal Maret 2025 kondisi di Gaza terus memburuk di tengah-tengah eskalasi militer israel yang tak kunjung mereda. Serangan udara artileri dan operasi darat yang dilancarkan sejak Oktober 2023 lalu telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur vital di Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, pusat distribusi bantuan, dan jaringan listrik. Gaza kini benar benar terisolasi, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini.
Berdasarkan laporan terbaru dari kantor PBB, untuk koordinasi kemanusiaan (OCHA), lebih dari 37.000 warga Palestina telah meninggal dunia, termasuk lebih dari 14.000 anak anak. Jumlah korban luka mencapai lebih dari 82.000 orang, banyak di antaranya manjalani amputasi akibat keterlambatan penanganan medis. Sistem kesehatan Gaza telah hancur total, dengan lebih dari 70 persen fasilitas medis hancur atau tidak berfungsi akibat serangan dan kekurangan pasokan.
Israel memperketat blokade darat, laut, dan udara yang membuat pasokan makanan, obat obatan, bahan baka,r dan air bersih nyaris terputus. Hingga Maret 2025, lebih dari 2 juta warga Gaza menghadapi kelaparan akut. Laporan dari World Food Programme (WEP) menyebutkan bahwa sebagian keluarga kini hanya makan satu kali sehari dengan porsi sangat minim. Harga bahan pokok melonjak drastis, sementara sumber air bersih telah tercemar memperburuk kesehatan masyarakat.
Menurut laporan WHO 2025, lebih dari 1.8 juta jiwa warga Gaza, bahkan hampir seluruh populasi telah kehilangan tempat tinggal dan hidup di kamp kamp pengungsian yang sangat padat dan tidak layak huni. Tenda tenda darurat membludak , fasilitas sanitasi rusak, dan penyakit menular seperti diare akut, Hepatitis serta infeksi saluran pernapasan merebak luas. Anak anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak karena sekolah-sekolah hancur atau dijadikan tempat perlindungan.
Upaya diplomasi internasional hingga Maret 2025 masih gagal mencapai titik temu yang berarti. Resolusi gencatan senjata yang diajukan di Dewan Keamanan PBB berkali kali diveto, terutama akibat ketegangan geopolitik antara kekuatan besar dunia. Negeri muslim lain, seperti Qatar dan Mesir juga masih melakukan negosiasi yang kita sudah tau tidak akan pernah bisa menghentikan kebejatan Israel.
Gaza yang sejak lama digambarkan sebagai penjara terbesar di dunia, kini mendekati status wilayah yang tak layak huni. Wilayah itu mengalami kehancuran infrastruktur, hilangnya akses kebutuhan dasar, serta angka kematian yang terus meningkat.
Bayangkan, hari ini umat muslim yang terbunuh bukan hanya satu, tetapi puluhan ribu. Akan tetapi, nyaris tidak ada pembelaan terhadap mereka. Hal yang juga dikhawatirkan adalah setiap hari orang makin melupakan Gaza.
Padahal, seorang muslim semestinya mencurahkan perhatian terus menerus pada nasib kaum muslim. Pasalnya di antara ciri mukmin yang ittibaa’ kepada Rasulullah saw, adalah memiliki sifat kasih sayang kepada sesama muslim, Allah SWT berfirman:
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang orang yang bersamanya dengan dia itu kersa terhadap kaum kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka” (TQS Al Fatah(48):29).
Rasulullah saw. juga menggambarkan hubungan sesama orang muslim seperti satu tubuh, artinya jika ada satu yang luka, maka harusnya yang lain pun secara otomatis ikut merasakan perihnya luka tersebut. Rasulullah saw, bersabda,
“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, berkasih sayang dan tolong menolong di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit maka sekujur tubuh juga akan merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasakan demam” (HR Muttafaq ‘alaih).
Palestina adalah negeri yang diberkahi, tanah suci umat muslim, dan kiblat pertama bagi umat islam. Palestina juga salah satu tempat yang dikunjungi oleh Baginda Nabi Saw saat melaksanakan perjalanan isra’. Di tempat ini Rasulullah melakukan sholat bersama para Nabi dan Rasul sebelumnya. Maka, sudah tentu muncul perhatian dan pembelaan terhadap kaum muslimin di Gaza.
Para penguasa muslim dalam sistem negara bangsa sekuler telah gagal membela hak-hak umat Islam. Mereka justru memperkuat sekat-sekat nasionalisme yang memecah belah solidaritas muslim global. Mereka terkungkung oleh doktrin pertahanan nasional sempit, alih alih mengerakkan kekuatan besar umat Islam untuk membebaskan tanah yang dijajah.
Umat Islam memiliki potensi yang sangat besar baik dari segi populasi, maupun sumber daya alam untuk menghadapi penindasan dan penjajahan. Akan tetapi, potensi ini tidak terwujud akibat kurangnya kepemimpinan yang bersandar pada nilai-nilai Islam. Sejarah mencatat bahwa umat Islam pernah bersatu sebagai satu kesatuan politik di bawah naungan khilafah yang tidak hanya mampu melindungi kehormatan umat, tetapi juga membawa keadilan bagi dunia.
Perpecahan umat Islam akibat seka- sekat nasionalisme harus segara diatasi dengan upaya menyatukan kembali umat Islam di bawah naungan khilafah. Sistem ini tidak hanya akan mengerakkan kekuatan militer umat untuk membebaskan Palestina dan tanah muslim lainnya, tetapi juga akan menjadi tameng yang melindungi umat dari dominasi kekuatan kolonial.
Dalam kerangka Khilafah, umat Islam akan memiliki strategi geopolitik independen yang didasarkan pada akidah Islam, bukan kepentingan asing. Perjuangan ini tidak akan selesai dengan langkah-langkah diplomasi semata, melainkan dengan kesadaran politik, keteguhan iman, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam.














