Jakarta– “Aku hampir menelepon polisi karena mengira anakku hilang. Padahal, dia hanya sedang menonton film, setelah berkali-kali pamit padaku.”
Itulah sepenggal kisah Fraser, pria asal Australia yang menjadi satu dari segelintir manusia yang menanggung beban Alzheimer di usia muda sebuah penyakit yang umumnya baru menyapa usia senja, namun kini perlahan menengok ke dekade yang lebih dini: 30-an, bahkan 40-an.
Melalui kanal YouTube-nya yang bernama “I (don’t) have dementia”, Fraser membuka tirai ingatannya yang koyak. Ia bercerita dengan jujur, kadang getir, kadang tertawa getir, tentang bagaimana kenangan perlahan meluruh, seperti foto-foto yang luntur di balik kaca jendela tua.
Lupa Bukan Sekadar Lelah
Gejala awal datang diam-diam seolah kelelahan biasa. Fraser mengira otaknya hanya sedang penuh karena stres. Tapi waktu membuktikan, ini bukan sekadar lupa menaruh kunci atau melewatkan janji. Ini adalah hilangnya fragmen hidup yang penting: percakapan dengan anak, rencana kecil yang tiba-tiba lenyap, bahkan wajah dan nama yang biasanya akrab jadi samar.
Tidur malamnya rusak. Siang hari malah terisi tidur panjang yang tak menyegarkan. Dalam videonya, Fraser menyebut ia sering terbangun malam-malam, merasa lelah luar biasa, meski tak tahu kenapa. Tubuhnya seperti alarm yang tak lagi sinkron dengan waktu.
Melupakan Hidup yang Pernah Dikenal
Ada satu adegan di videonya yang sulit dilupakan. Fraser duduk, memandang ke kejauhan, mencoba mengingat perjalanan bermain golf bersama teman-temannya. Tapi seperti lembaran kosong, ingatan itu menolak muncul. Ia ingin bicara, ingin menyambung cerita, tapi kata-kata tak datang. Ia hanya berkata pelan:
“Itu menjadi sangat kabur… bahkan saat saya ingin bicara, saya tidak bisa.”
Apa Itu Alzheimer, dan Siapa yang Perlu Waspada?
Menurut Johns Hopkins Medicine, Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia penyakit progresif yang menghancurkan memori, cara berpikir, hingga kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Ia datang perlahan, seperti kabut yang kian tebal, menutup jalan pulang ke pikiran yang jernih.
Sumber penyakit ini belum diketahui pasti. Namun dua ‘tersangka utama’ dalam banyak penelitian adalah plak dan tangle, dua jenis protein yang merusak dan membunuh sel saraf di otak. Ia biasanya bermula di area otak yang bertanggung jawab atas memori, lalu menyebar bagai tinta yang tumpah.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Alzheimer tidak mengenal usia secara mutlak. Riwayat keluarga, trauma kepala, polusi udara, gangguan tidur, hingga gaya hidup tidak sehat bisa menjadi faktor pemicunya, bahkan di usia muda. Berikut gejala yang umum terjadi:
- Mudah melupakan informasi baru
- Sering mengulang pertanyaan atau cerita yang sama
- Sulit mengikuti percakapan atau menemukan kata yang tepat
- Menaruh barang di tempat yang tak masuk akal
- Bingung terhadap waktu atau tempat
- Kehilangan kemampuan menilai sesuatu secara tepat
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Perubahan kepribadian dan suasana hati
- Kesulitan tidur, berbicara, atau berjalan seiring waktu
Jika Anda mengalami gejala seperti ini atau mengenal seseorang yang mengalaminya, jangan menunda untuk berkonsultasi dengan dokter. Alzheimer bukan penyakit yang bisa didiagnosis sendiri. Ia butuh pendekatan medis yang menyeluruh.
Alzheimer di Usia Muda: Nyata dan Harus Diwaspadai
Kisah Fraser adalah peringatan lembut namun tajam bahwa lupa tidak selalu berarti lelah. Terkadang ia adalah sinyal awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia mengajarkan bahwa kesadaran dan keberanian untuk mencari tahu adalah bentuk cinta terhadap diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi.
Fraser mungkin kehilangan sebagian ingatannya. Tapi lewat ceritanya, ia mengingatkan kita semua agar tak melupakan diri sendiri.
(d10)














