Respons Cepat Krisis Air, Kolaborasi Pemerintah dan Petani Selamatkan Puluhan Hektare Padi Paguat

Akbar

Dailypost Gorontalo – Ancaman gagal panen akibat kekeringan membayangi ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Paguat. Guna mengantisipasi dampak yang lebih meluas, IP3OPT Marisa melalui Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Balai Wilayah Sungai (BWS), serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersinergi melakukan aksi cepat tanggap di lapangan.

Berdasarkan hasil identifikasi tim POPT di lapangan, dari total 161,5 hektare luas tanam padi sawah di wilayah tersebut, terdapat 55,5 hektare lahan yang terancam kekeringan. Wilayah yang paling terdampak berada di Desa Bunuyo, Desa Kemiri, dan Desa Molamahu. Kondisi ini dipicu oleh waktu tanam yang relatif terlambat, di mana usia tanaman padi saat ini rata-rata baru memasuki 35 hingga 50 Hari Setelah Tanam (HST).

Di Desa Bunuyo, ancaman kekeringan berhasil diantisipasi berkat langkah proaktif dari Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Irigasi. Secara swadaya, mereka mengoperasikan empat unit sumur suntik beserta pompa air untuk mempertahankan fase pertumbuhan tanaman. Langkah mandiri ini terbukti efektif menyelamatkan puluhan hektare padi dari risiko puso (gagal panen).

Namun, nasib berbeda dihadapi oleh para petani di Desa Kemiri dan Desa Molamahu. Lahan pertanaman padi di kedua desa tersebut terancam mengalami puso total karena sama sekali tidak memiliki akses ke sumber air permukaan maupun tanah. Di sisi lain, beberapa desa tetangga justru dilaporkan aman dan bersiap melakukan panen karena usia tanaman sudah memasuki fase matang.

Merespons situasi kritis ini, Kepala BPP Kecamatan Paguat langsung berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyusun langkah kedaruratan. Pemantauan intensif dilakukan bersama perwakilan Kementerian PUPR, Hidayat, guna mencari solusi jangka pendek sekaligus meninjau infrastruktur jangka panjang.

Dalam peninjauan tersebut, tim lintas instansi juga mengecek perkembangan proyek pembangunan irigasi tersier yang sebelumnya diusulkan oleh sejumlah kelompok tani, antara lain Poktan Sinar Pagi, Mina Pale, Mina Pale 1, dan Mina Pale 2. Keberadaan jaringan irigasi tersier ini diharapkan menjadi solusi permanen dalam menjaga ketersediaan pasokan air, memperkuat ketahanan pangan lokal, serta mencegah bencana kekeringan serupa terulang kembali di masa depan.

Share:   
https://wa.wizard.id/003a1b
Rekomendasi Produk TikTokShop

Promo Kursi Gaming

Rp5xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Kursi Kerja Ergonomis

Rp3xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

Meja Kerja/Gaming

Rp2xx.xxx

Belanja Aman di Sini

FOLLOW US ON FACEBOOK
FOLLOW US ON INSTAGRAM
FOLLOW US ON TIKTOK
@dailypost.id
ekakraf multimedia