Jakarta– Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Meski prevalensi hipertensi menunjukkan penurunan dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 24,1 persen pada 2023, pengendalian penyakit ini masih menghadapi berbagai tantangan.
Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (INASH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N, menyebutkan bahwa salah satu kendala terbesar adalah banyaknya kasus hipertensi yang tidak terdiagnosis. Selain itu, tingkat kepatuhan pasien dalam mengikuti pengobatan masih rendah, serta clinical inertia—kurangnya intensifikasi pengobatan sesuai pedoman oleh tenaga medis—turut mempersulit pencapaian target pengendalian tekanan darah.
“Masalah pengendalian hipertensi di Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Tantangan utama yang kita hadapi adalah tingginya jumlah penderita hipertensi yang tidak terdiagnosis, rendahnya kepatuhan pasien dalam berobat, serta kurangnya intensifikasi pengobatan sesuai pedoman medis,” ujar dr. Eka, dikutip dari Antara, Jumat (21/2/2025).
Faktor Penyebab Rendahnya Pengendalian Hipertensi
Lebih lanjut, dr. Eka menjelaskan bahwa selain masalah pengobatan, gaya hidup masyarakat yang kurang sehat juga memperburuk kondisi ini. Beberapa faktor yang menjadi pemicu utama hipertensi di Indonesia antara lain:
✅ Tingginya konsumsi garam dalam makanan sehari-hari.
✅ Merokok yang mempercepat kerusakan pembuluh darah.
✅ Obesitas, yang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
✅ Kurangnya aktivitas fisik, yang membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit kardiovaskular.
✅ Kurangnya kesadaran masyarakat akan risiko komplikasi hipertensi, seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, kebutaan, hingga demensia.
Berdasarkan Survei Multi-Mitra (MMM) yang dilakukan oleh INASH, hanya 38,2 persen pasien hipertensi yang berhasil mencapai target pengobatan. Angka ini masih jauh dari target pengendalian hipertensi nasional sebesar 50 persen, yang berarti lebih dari 24 juta penderita hipertensi di Indonesia harus mendapatkan pengobatan yang efektif.
Langkah Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi
Untuk meningkatkan pengendalian hipertensi, dr. Eka menyarankan beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat:
✔ Rutin memeriksa tekanan darah, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
✔ Mengurangi konsumsi garam, terutama dari makanan kemasan dan olahan.
✔ Menerapkan pola makan sehat, dengan meningkatkan asupan sayur, buah, dan makanan tinggi serat.
✔ Berolahraga secara teratur, minimal 30 menit per hari.
✔ Berhenti merokok dan menghindari alkohol, yang dapat memperburuk kondisi hipertensi.
Selain itu, dr. Eka juga menyoroti pentingnya skrining dini hipertensi, agar kasus dapat terdeteksi lebih cepat dan diobati dengan tepat. Ia menambahkan bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap 60,1 persen kasus hipertensi, sehingga penelitian genomik mulai mendapat perhatian sebagai langkah deteksi dini.
Peran Pemerintah dalam Pengendalian Hipertensi
Untuk menekan angka komplikasi akibat hipertensi, dr. Eka mengusulkan agar pemerintah menerapkan regulasi ketat terhadap batasan konsumsi garam dalam produk makanan kemasan dan olahan. Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih teliti dalam membaca label makanan guna mengetahui kandungan garam yang dikonsumsi sehari-hari.
Dengan upaya yang lebih serius dalam pengobatan, pencegahan, dan regulasi ketat terhadap makanan tinggi garam, diharapkan pengendalian hipertensi di Indonesia semakin membaik dan angka komplikasi akibat penyakit ini dapat ditekan.
(d10)














