– Wakil Rakyat Gorontalo Utara yang dulu dikenal garang, kini terlihat lebih banyak diam dalam menghadapi persoalan rakyat, terutama terkait dengan isu Gaji Honorer dan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) PNS. Rakyat pun bertanya-tanya, apakah perubahan warna politik pemerintahan berdampak pada kinerja wakil rakyat yang terlihat semakin minim respons terhadap kebutuhan mendasar masyarakat.
Seharusnya, Gaji Honorer dan TKD PNS menjadi fokus utama wakil rakyat dalam menjalankan tugasnya sebagai perwakilan rakyat. Namun, ironisnya, sekarang terasa seperti keheningan yang menggantikan suara lantang para wakil rakyat yang dulu kerap terdengar. Apakah perubahan kekuasaan di pemerintahan mempengaruhi sikap mereka? Apakah keterkaitan warna politik menjadi alasan atas diamnya perwakilan rakyat?
Pada tahun 2019, anggota DPRD Kabupaten Gorontalo Utara, Hamzah Sidik Djibran, pernah dengan tegas mendesak pemerintah setempat untuk memperhatikan kesejahteraan tenaga honorer dan pegawai tidak tetap. Namun, di tahun 2023 ini, terdengar lebih sedikit suara dari wakil rakyat terkait isu-isu ini.
Dalam pernyataannya saat itu, Hamzah menggarisbawahi bahwa tenaga honorer adalah bagian dari aparatur pemerintah, dan perlu mendapatkan perhatian serta jaminan terkait kesejahteraannya. Namun sepertinya berbeda saat ini, hal ini belum menjadi perhatian utama wakil rakyat, yang kini tampak lebih banyak bungkam.
Seiring perubahan tahun, apakah perwakilan rakyat yang dulu vokal dan garang dalam menyuarakan isu-isu rakyat telah terpengaruh oleh perubahan warna politik di pemerintahan?
Seiring munculnya pertanyaan-pertanyaan ini, rakyat menanti jawaban dan tindakan nyata dari wakil rakyat, yang diharapkan dapat kembali memperjuangkan isu-isu krusial seperti Gaji Honorer dan TKD PNS ke permukaan.
Rakyat berharap agar wakil rakyat tidak hanya sekadar mempertahankan kursi dan partai politik, tetapi lebih mendengar dan bertindak sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan rakyat. Gaji Honorer dan TKD PNS bukanlah isu sepele, melainkan menyangkut kesejahteraan masyarakat secara langsung.
Apakah kebijakan yang dulu disuarakan dengan tegas kini terdilusi? Ataukah ada faktor lain yang membuat wakil rakyat lebih banyak diam dalam menghadapi persoalan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab untuk memahami perubahan sikap dan respons wakil rakyat terhadap isu-isu krusial.
Dalam menyikapi situasi ini, rakyat menantikan sikap tegas dan langkah konkret dari wakil rakyat. Semoga, keheningan yang kini terdengar bukanlah pertanda ketidakpedulian, melainkan strategi yang lebih baik.














