Penulis : Febiyanti Maleba
— Di sebuah pelosok desa, hiduplah seorang wanita cantik bernama Nurul, yang memiliki kecintaan mendalam terhadap seni menggambar. Hobi ini membawanya menghabiskan berjam-jam di dalam kamar, kecuali saat berangkat ke kampus atau mencuci piring setelah makan. Nurul dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh, dan rasa kecewa akibat keadaan ini membuatnya memilih untuk melukiskan perasaannya dalam bentuk gambar. Dia menjadi introvert, menutup diri dari interaksi sosial karena khawatir orang lain akan melukainya.
Setiap hari, sepulang dari kampus, Nurul segera masuk ke kamarnya tanpa suara yang menyapa di rumah. Bukan karena keluarganya tidak menyayanginya, tetapi lebih karena sikapnya yang cenderung cuek dan jarang berbicara.
Suatu sore, setelah menghadiri perkuliahan, Nurul didatangi oleh seorang dosen muda.
“Dek Nurul…” sapa sang dosen sambil melambai tangannya.
Nurul yang tidak terbiasa berkomunikasi, terkejut dan hanya bisa membalas dengan senyuman. “Iya, Bu,” jawabnya.
Di dalam hatinya, ia bertanya, “Katanya tidak ada dosen yang masuk hari ini, kenapa ada yang datang?”
Dosen tersebut mengajak Nurul duduk di taman kampus dan bertanya, “Dek, setiap kali ibu melihatmu, kamu selalu diam di kelas. Kenapa tidak pernah jalan dengan teman-teman? Ada yang ingin diceritakan?”
Merasa canggung, Nurul hanya menjawab, “Nggak papa, Bu,” sambil menahan air mata.
“Tidak apa-apa jika kamu belum mau bercerita. Ibu membawa hadiah untukmu. Buka di rumah, ya,” kata dosen sambil mengusap bahunya.
Sesampainya di rumah, Nurul membuka tas kresek hitam dan menemukan sebuah buku karya Tere Liye berjudul “Mampu Bangkit.” Penuh rasa penasaran, ia mulai membaca buku tersebut hingga tak terasa waktu telah berlalu hingga tengah malam. Setiap halaman yang dibaca memberinya semangat dan ambisi baru.
Keesokan harinya, Nurul memulai aktivitasnya dengan berangkat ke kampus. Untuk pertama kalinya, ia menyapa ibunya saat berangkat, membuat sang ibu terkejut. “Nurul, kamu kenapa?” tanya ibunya.
“Aku ingin memulai warna hidup yang baru,” jawab Nurul dengan senyum lebar.
Di kampus, Nurul mulai menyapa teman-temannya, dan mereka pun terkejut melihat perubahan sikapnya. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai lomba menggambar dan menulis, bahkan terpilih sebagai narasumber motivator generasi untuk pengenalan budaya dan akademik mahasiswa baru angkatan 2024.
Proses membaca buku memberinya pemahaman bahwa setiap orang memiliki cerita dan perjuangan masing-masing. Ia belajar bahwa berani berbagi pengalaman dan emosi dapat membuka jalan untuk terhubung dengan orang lain. Literasi memberinya jendela untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda, menjadikannya lebih peka terhadap orang-orang di sekitarnya.
Dengan semangat baru ini, Nurul tidak hanya menjadi lebih aktif di kampus, tetapi juga menyadari bahwa kekuatan sejati berasal dari keberanian untuk menghadapi ketakutan dan berusaha untuk berubah. Melalui literasi, ia menemukan kekuatan dalam dirinya dan membuka peluang untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Kini, jendela dunia baginya tidak lagi sekadar gambar-gambar di atas kertas, tetapi juga merupakan hubungan yang hangat dan berharga dengan orang-orang di sekitarnya.















