- Pemerintah Israel kembali menjadi sorotan setelah melarang warga Palestina untuk menampung air hujan sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Laporan dari PBB menyebutkan bahwa Israel mengklaim kepemilikan atas air hujan, yang menimbulkan larangan bagi warga Palestina untuk mengumpulkannya.
Kontroversi ini mencuat setelah akun Twitter @Tracking_Power, yang dimiliki oleh David Miller, membagikan laporan larangan tersebut pada 19 November 2023. Laporan PBB menyoroti pelanggaran hak asasi manusia oleh Israel terkait air di wilayah Palestina.
Keputusan Israel untuk melarang pengumpulan air hujan ini menjadi sorotan setelah pada tahun 2009, pasukan militer Israel memerintahkan penghentian pembangunan waduk di desa Tuwani, meskipun penduduk setempat mengalami kekurangan air yang parah. Pembangunan waduk ini diharapkan dapat mengatasi krisis air di Palestina.
Meski penduduk akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan air hujan, perintah militer Israel menyatakan bahwa air hujan di wilayah tersebut adalah kepemilikan mereka. Larangan ini juga meluas pada hampir semua pembangunan sumur yang diperlukan oleh warga untuk mendukung kebutuhan air rumah tangga dan pertanian.
Tindakan ini tidak hanya menghambat akses air bersih bagi masyarakat Palestina tetapi juga menghalangi pembangunan fasilitas sanitasi seperti toilet, jaringan pembuangan limbah, dan tangki air untuk memanen air hujan.
Meskipun pada tahun 2010 Israel menyetujui pembangunan titik pengisian air di desa Tuwani, kapasitasnya jauh di bawah permintaan lembaga kemanusiaan untuk melayani desa-desa sekitarnya.
Reaksi dari berbagai pihak pun datang, dengan David Miller menyatakan keheranannya atas klaim Israel terhadap air hujan. Netizen juga mengecam atas kontrol yang diterapkan oleh Israel terhadap sumber daya alam yang seharusnya bersifat universal, seperti air hujan.
“(Kontrol tertinggi. Bahkan tidak bisa mengumpulkan air hujan yang mana bukan milik siapa pun! Itu berasal dari bumi).
“The sky, the clouds, the dust, the ocean and lakes, the arrogance is outrageous (Langit, awan, debu, lautan dan danau, arogansi yang keterlaluan)” ungkap akun Twitter @pepetualWhan.
Komentar netizen mengecam kebijakan tersebut sebagai tindakan yang tidak hanya tidak masuk akal tetapi juga kejam.
“That is insane (Itu gila),” ungkap akun Twitter @suhaichemistry.
“Even God’s gifted rain is claimed by the apartheid regime of Israel as the ‘promised rain’? that’s utter evil, evil.
“Bahkan hujan pemberian Tuhan diklaim oleh rezim apartheid Israel sebagai ‘hujan yang dijanjikan’? itu sangat jahat, jahat,” tulis akun Twitter @ZiadElkhalil














